Beranda Nasional Indonesia Diyakini Mampu Bersaing Global dalam Industri Kendaraan Listrik

Indonesia Diyakini Mampu Bersaing Global dalam Industri Kendaraan Listrik

46
0

SumselNews.co.id Jakarta | Biro Komunikasi Kemenko Marves menggelar konferensi pers secara virtual bersama wartawan pada hari Jumat (05-02-2021). Konferensi pers ini menghadirkan langsung Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Septian Hario Seto sebagai narasumber guna membahas program kerja di tahun 2021, khususnya perkembangan seputar investasi terkait mobil listrik dan _lithium battery_ serta hilirisasi pertambangan.

“Proposal Tesla sudah diterima kemarin pagi dan sudah dipelajari secara internal. Namun terkait isinya belum dapat dibuka karena dari pihak mereka juga sangat _strict_ ,” ungkap Deputi Seto. Menindaklanjuti proposal tersebut, akan dilakukan pertemuan bersama pihak Tesla pada pekan depan.

Selanjutnya, Deputi Seto juga mengungkapkan kerja sama lain bersama Tesla di bidang _Energy Storage System_ (ESS). ESS merupakan sistem penyimpanan energi dengan daya besar. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar untuk pengembangan _renewable energy_ sehingga kerja sama ini juga diharapkan memberikan manfaat yang maksimal. Sementara terkait kerja sama dengan CATL dan LG, saat ini masih dalam proses negosiasi.

“Untuk CATL rencana 2024 mereka akan mulai pembangunan baterai _cell_nya. Untuk LG, sudah ada MoU yang ditandatangani dengan BKPM,” terang Deputi Seto.

Deputi Seto juga mengungkapkan antusiasmenya untuk bekerja sama dengan Tesla sekaligus dengan CATL dan LG, yang termasuk sebagai pemain terbaik di dunia. Menurutnya, kerja sama ini akan memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk turut menjadi pemain dalam industri _electronic vehicle_ maupun _lithium battery_.

“Saya pikir kalau kita ada investasi dari CATL, investasi dari LG yang adalah produsen lithium battery, plus ditambah dengan Tesla dengan mobil listriknya, kita sebagai anak bangsa bisa banyak belajar dari sini karena salah satu yang kita minta adalah transfer teknologi,” kata Deputi Seto.

Terkait kerja sama dalam industri _electronic vehicle_ serta _lithium battery_, Deputi Seto mengungkapkan bahwa tujuannya ialah untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki Indonesia, dan bukan hanya sebagai pemasok bahan baku.

“Kalau mereka hanya ambil bahan baku, kita gak tertarik. Detailnya yang lain kita belum bisa _disclose_, tapi ini _beyond_ dari sekadar hanya ambil bahan baku,” lanjut Deputi Seto.

Pembangunan industri _electronic vehicle_ serta _lithium battery_ juga tentunya tidak dapat dipisahkan dari hilirisasi pertambangan, khususnya untuk nikel, tembaga ( _copper_), dan bauksit.

“ _Copper_, nikel, dan bauksit ini berperan sangat signifikan dalam pengembangan _renewable energy_ dan dalam beberapa bulan terakhir pun kalau diperhatikan harganya naik secara signifikan,” terang Deputi Seto.

Kemudian, Deputi Seto juga menyampaikan rencana pembangunan _smelter copper_ antara PT Freeport bersama Tsing Shan di Weda Bay. Saat ini masih dilakukan negosiasi yang ditargetkan dapat mencapai kesimpulan di akhir bulan Maret. Sejauh ini, Tsing Shan sudah memberikan penawaran yang menarik untuk menanggung pembiayaan investasi.

“Pembiayaan investasinya ini sebagian besar akan ditanggung oleh pihak Tsing Shan. Tsing Shan juga berani untuk memberikan pembiayaan yang maksimal secara keseluruhan dari diskusi yang sekarang. Mungkin dari pihak Freeport hanya butuh memberikan pendanaan sekitar 7.5% dari _total project cost_ nya,” ungkap Deputi Seto.

“Mereka akan bangun hilirisasi tembaganya. Kita ingin turunannya mereka bangun di sana, bukan hanya _copper cathode_ saja,” lanjut Deputi Seto.

Dengan dilakukan pembangunan pada kawasan industri, secara langsung juga akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi regional. Hal tersebut terjadi secara beriringan dengan adanya peningkatan kebutuhan tenaga kerja serta fasilitas pendukungnya.

Pemerintah pun tidak lepas perhatian untuk menjaga kelestarian, salah satunya dengan membangun industri daur ulang pada _lithium battery_ dengan memanfaatkan _lithium battery_ bekas pakai. Industri ini sedang dalam tahap pembangunan di Morowali.

“Kita lagi bangun di Morowali untuk _recycling_ nikel. Jadi _lithium battery_ yang udah habis pakai itu didaur ulang diekstrak lagi. Ini salah satu cara untuk me_recycle_ apa yang sudah diproduksi,” terang Deputi Seto.

Besarnya potensi sumber daya serta terbukanya kesempatan kerja sama yang ada, menurut Deputi Seto, harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan Indonesia.

“Saya pikir ini adalah satu momentum untuk bisa menempatkan posisi Indonesia dalam _global value chain_ yang signifikan. Kita bisa jadi pemain utama di sana, undang _partner_ yang tepat untuk hilirisasi dan teknologi sehingga kita bisa mengembangkan juga,” pungkas Deputi Seto.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here