Beranda Pagaralam Penemuan Gua di Rimba Candi, Begini Kata Ahli Sejarah

Penemuan Gua di Rimba Candi, Begini Kata Ahli Sejarah

654
0

SumselNew.co.id Pagaralam | Penemuaan ulkiran mirip lafaz Allah dan ukiran mirip kubah masjid di sebuah dinding gua Desa Rimba Candi Kota Pagaralam, masih menjadi tanda tanya.

Menurut Inlander Azile salah satu ASN di Dinas Pariwisata Kota Pagaralam, sebelum dihebohkan dimedia sosial beberapa hari lalu,  dia mangaku pernah kelokasi tersebut.

“Kira – kira tahun 2012 silam,  saya pernah kesana dan memgambil poto ukiran pada dinding mulut gua,  dan di pos di Akun FAcebook,”ungkap Inlander Azile Selasa (02/03/2021)

Lanjutnya,  pada postingan tersebut di sisipkan caption “Jangan bilang aku orang arkeolog,  aku cuma pemerhati sejarah saja, bahkan seluruh megalit yang ada di Pagaralam adalah sarana alat dari pemujaan pada zaman dahulu, bahkan agama yang ada di Pagaralam, Animisme, Dinamisme sama Totisme Menyembah Hewan melata buktinya ditemukan arca.

“Kalau di Pagaralam dibilang ada candi, itu menurut saya tidak benar karena di Kota Pagaralam tidak ada buktinya Arkeologisnya,”ungkap Inlander Azile.

Ditambahkan pria yang akrab disapa Aryok ini,  pada tahun 2012 yang lalu selain mengambil poto – poto sekitar lokasi dan gambar pada dinding,  juga sudah mengambil titik koordinatnya.

“Waktu itu,  dindimg gua masih berwarna kuning,  dan belum berlumut,”katanya.

Setelah dihebohkan lagi,  banyak stateman dan pendapat di masyarakat yang menyebut gua tersebut adalah gua candi.

“Memang dalam beberapa hari seoekan ini banyak yang berpendapat, gua nya benar, namun posisi gua tersebut berada di wilayah Burung Dinang, namanya Gua Kelelawar,”jelas Aryok.

Lebih jauh Aryok menjelaskan, terkait ukiran yang berada di gua kelelawar tersebut bisa dipastikan bukan peninggalan bersejarah.

“Kalau dilihat dari pahatan ukiran tersebut, agak janggal karena ukiran atau lukisan pada dinding gua tetsebut sudah seperi ukiran atau lukisan zaman modern, sedangkan Masjid Agung Palembang saja tidak sebagus itu kubahnya,”ungkap Aryok.

Selanjutjya kata Aryok, ukiran lafaz Allah,  itu merupakan huruf Arab,  sedangkan pada zaman Pasemah belum atau tidak mengenal huruf Arab.

Aksara kuno (Hasra Hulu) bisa kita lihat di Daerah Dusun Benua Keling ada pembagian hestra Huruf Hulu,”Yang dipakai pada zaman itu adalah huruf hulu,”bebernya.

Sedangkan yang memakai huruf arab kami menyebutnya Bahasa Melayu, dan kami menyebutnya Huruf Jawi atau yang disebut orang Jawa Hokofigor.

Kesultanan dengan orang Pasemah sifatnya Ambiguitas, mereka mengakui kedaulatan tapi mereka dak mau makai budaya uluan, dan mereka saling membutuhkan makanya disebut Ambiguitas,”tegasnya.

Sementara itu, Kabid Industri dan Destinasi Pariwisata Anjas Hariansyah,SP. mengkui  potensi pariwisata di daerah Rimba Candi sangat bagus.

“Di Rimba Candi sangat kaya potensi wisata,  yang bisa dikembangkan antara Agro Wisata, seperti Wisata Budaya dan Sejarah, Wisata Alam dan lainnya,”kata Anjas.

Dia berharap,  dengan adanya temuan objek wisata baru ini,  akan lebih banyak lagi para wisatawan yang datang ke Kota Pagaralam. (Mr)

Tanggal Update on 3 Maret 2021 by admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here