Ratusan Sungai di Palembang Hilang: Dari 726 Kini Tersisa 114, Apa yang Terjadi?

SUMSELSELNEWS.CO.ID | Dulu, Palembang dikenal sebagai kota yang napasnya adalah sungai. Bukan cuma Sungai Musi yang besar dan legendaris, tapi juga ratusan anak sungai yang mengalir seperti urat nadi di berbagai sudut kota. Sayangnya, pemandangan itu kini tinggal kenangan. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah sungai di Palembang menyusut drastis. Dari yang awalnya tercatat sebanyak 726 sungai, kini hanya tersisa 114. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cerminan dari perubahan wajah kota yang begitu cepat dan kadang tak terkendali.

Menyusuri Jejak Sungai-Sungai yang Hilang

Bayangkan berjalan di sepanjang tepian sungai kecil yang airnya jernih, dikelilingi pohon-pohon rindang, dan para ibu mencuci atau anak-anak bermain perahu dari daun. Itulah gambaran Palembang tempo dulu. Namun, jika Anda berjalan di lokasi yang sama sekarang, Anda mungkin hanya akan menemukan jalan raya, rumah-rumah padat, atau mal. Anak-anak sungai itu seolah ditelan oleh pembangunan yang tak kenal kompromi.

Fenomena hilangnya sungai-sungai ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Prosesnya berlangsung bertahun-tahun, dimulai dari era 1980-an hingga sekarang. Banyak anak sungai yang ditimbun untuk dijadikan lahan perumahan, pusat perbelanjaan, atau infrastruktur jalan. Alih fungsi lahan menjadi biang keladi utama. Sayangnya, perubahan ini seringkali dilakukan tanpa perencanaan tata ruang yang matang, sehingga dampak negatifnya baru terasa puluhan tahun kemudian.

Palembang: Kota yang Lahir dari Sungai

Untuk memahami apa yang hilang, kita perlu melihat sejarah Palembang. Sebagai ibu kota Kerajaan Sriwijaya, Palembang adalah pusat perdagangan maritim yang mengandalkan sungai sebagai jalur transportasi utama. Sungai Musi ibarat jalan tol zaman dulu, sementara anak-anak sungainya adalah jalan-jalan lingkungan yang menghubungkan permukiman. Sistem sungai ini tidak hanya berfungsi sebagai prasarana, tapi juga sebagai sumber air, tempat mandi, cuci, kakus (MCK), dan bahkan ritual budaya.

Setiap kampung di Palembang biasanya memiliki sungai kecil yang menjadi pusat kehidupan sosial. Sungai-sungai itu menjadi saksi bisu peradaban. Namun, ketika pembangunan modern masuk, sungai-sungai itu mulai dianggap sebagai penghalang. Lebih mudah menimbun sungai untuk membuat jalan daripada memeliharanya. Anggapan bahwa sungai itu kotor dan berbahaya juga ikut mendorong praktik penimbunan massal.

Baca Juga  Tebar Semangat Literasi Bersama Hj. Patimah Toha dan Rosada Rohman di PAUD Kasih Bunda

Data yang Mencengangkan: Dari 726 ke 114

Data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang menunjukkan adanya penurunan jumlah sungai yang sangat signifikan. Pada tahun 1990-an, tercatat ada 726 sungai besar dan kecil di Palembang. Namun pada tahun 2023, jumlah itu tinggal 114. Artinya, lebih dari 84 persen sungai di Palembang telah menghilang dalam waktu sekitar 30 tahun. Angka ini tentu mencengangkan dan menjadi peringatan keras bagi pengelola kota.

Penurunan ini tidak merata di semua wilayah. Daerah-daerah seperti Kecamatan Ilir Barat I, Ilir Timur I, dan Seberang Ulu mengalami penyusutan paling parah karena padatnya pembangunan perumahan dan komersial. Di beberapa lokasi, sungai yang tadinya selebar sepuluh meter kini menyempit menjadi selokan kecil yang tersumbat sampah dan lumpur. Akhirnya, tak sedikit yang hilang total atau menjadi bagian dari drainase yang tidak terawat.

Faktor-Faktor Penyebab Hilangnya Sungai

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan sungai-sungai di Palembang lenyap. Pertama, tentu saja alih fungsi lahan. Lahan di sepanjang sungai sangat strategis dan sering dijadikan kawasan perumahan elit, pertokoan, atau bahkan kawasan industri. Kedua, sedimentasi yang tinggi. Akibat erosi dari hulu dan pembuangan sampah, dasar sungai dangkal dan akhirnya ditimbun alami maupun sengaja. Ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat banyak warga membangun rumah di atas atau di tepi sungai sehingga sempadan sungai hilang dan aliran air tersumbat.

Selain itu, regulasi yang lemah juga turut berperan. Izin mendirikan bangunan (IMB) seringkali dikeluarkan tanpa mempertimbangkan keberadaan sungai. Pengawasan terhadap pelanggaran sempadan sungai juga minim. Akibatnya, banyak sungai yang “diam-diam” menghilang karena ditimbun atau dibeton pemilik lahan.

Dampak Lingkungan yang Terasa

Hilangnya ratusan sungai tentu membawa dampak yang nyata bagi lingkungan dan warga Palembang. Dampak paling jelas adalah banjir. Ketika hujan deras turun, air tidak lagi punya tempat untuk mengalir dan meresap. Anak-anak sungai yang dulu berfungsi sebagai drainase alami telah hilang. Akibatnya, genangan air mudah terjadi di banyak titik, terutama di kawasan padat penduduk.

Dampak lainnya adalah berkurangnya sumber air bersih. Sungai-sungai kecil dulu menjadi andalan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang, mereka harus bergantung pada air PDAM yang seringkali bermasalah atau air tanah yang semakin dalam dan tercemar. Kualitas air tanah di Palembang juga menurun karena intrusi air laut dan pencemaran limbah rumah tangga.

Baca Juga  Jaga Kebugaran Tubuh, Pj TP PKK Muba Senam Sehat Bersama Puluhan Lansia

Tak hanya itu, hilangnya sungai juga memutus rantai ekosistem. Satwa seperti ikan air tawar, burung air, dan berbagai jenis tumbuhan riparian ikut lenyap. Padahal, sungai-sungai kecil itu adalah paru-paru kota yang membantu menjaga suhu dan kelembaban udara. Ketiadaan sungai membuat Palembang terasa lebih panas dan gerah, terutama saat musim kemarau.

Transportasi Air yang Semakin Tergerus

Salah satu ciri khas Palembang adalah transportasi airnya. Perahu ketek dan getek menjadi moda transportasi alternatif di sungai-sungai kecil. Namun, dengan menghilangnya sungai-sungai itu, jalur transportasi air pun ikut hilang. Masyarakat yang dulu bisa bepergian dari rumah ke tempat kerja melalui sungai kini harus beralih ke jalan darat yang macet. Padahal, transportasi air lebih ramah lingkungan dan bebas kemacetan.

Beberapa kampung yang masih mempertahankan sungai, seperti Kampung Kapitan dan Kampung Al Munawar, masih bisa dinikmati sebagai daya tarik wisata. Namun, mereka seperti oase di tengah gurun beton. Keberadaan mereka menjadi pengingat akan potensi kota sungai yang hampir lenyap.

Upaya Mengembalikan Sungai-Sungai yang Hilang

Pemerintah Kota Palembang sebenarnya sudah mulai sadar akan pentingnya menyelamatkan sungai. Beberapa program telah digulirkan, seperti normalisasi sungai, pembuatan siring (tembok penahan tebing), dan program kali bersih. Namun, hasilnya masih jauh dari harapan. Dari 114 sungai yang tersisa, banyak yang kondisinya memprihatinkan. Airnya hitam, penuh sampah, dan bau tak sedap.

Langkah yang lebih radikal diperlukan. Misalnya dengan melakukan revisi tata ruang yang tegas melarang pembangunan di sempadan sungai. Kemudian, perlu ada program “membuka kembali” sungai-sungai yang ditimbun. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah karena butuh biaya besar dan relokasi warga. Tapi jika tidak dimulai sekarang, 114 sungai yang tersisa pun bisa lenyap dalam 20 tahun ke depan.

Komunitas peduli lingkungan juga mulai bermunculan. Mereka mengadakan aksi bersih sungai, menanam pohon di bantaran, dan mengedukasi warga. Gerakan seperti Sungai Watch Palembang dan Komunitas Musi Berseri patut diapresiasi. Merekalah garda terdepan dalam menyelamatkan sungai. Pemerintah perlu merangkul komunitas-komunitas ini agar program pelestarian berjalan efektif dan berkelanjutan.

Baca Juga  Polres Muba Perangi Covid 19 melalui Program "Dulur Isoman"

Peran Masyarakat: Kunci Keberhasilan

Hilangnya sungai bukan semata karena kesalahan pemerintah. Masyarakat juga punya andil. Budaya membuang sampah ke sungai, membangun rumah di tepi sungai tanpa izin, dan membiarkan limbah rumah tangga mengalir langsung ke sungai masih tinggi. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama agar sungai bisa kembali bersih dan lestari.

Edukasi sejak dini sangat penting. Anak-anak harus dikenalkan dengan sungai sebagai bagian dari identitas kota. Sekolah-sekolah bisa mengadakan program cinta sungai. Selain itu, perlu ada insentif dan disinsentif. Misalnya, warga yang menjaga sempadan sungai mendapat keringanan pajak, sementara yang melanggar dikenakan sanksi tegas.

Masa Depan Palembang Tanpa Sungai

Mari kita berandai-andai. Jika 114 sungai yang tersisa juga ikut menghilang, Palembang akan kehilangan jati dirinya. Kota ini akan menjadi kota beton yang panas, kering, dan rawan banjir besar. Warisan budaya yang berkaitan dengan sungai akan punah. Anak cucu kita mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya naik perahu di atas air tenang di tengah kota.

Namun, belum terlambat. Masih ada waktu untuk berbenah. Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, Palembang bisa kembali menjadi kota sungai yang membanggakan. Bukan dengan memulihkan 726 sungai, setidaknya dengan menyelamatkan 114 yang tersisa dan menghidupkan kembali beberapa sungai utama yang punya nilai sejarah.

Kesimpulan: Pelajaran dari Sungai yang Hilang

Fenomena hilangnya ratusan sungai di Palembang adalah alarm keras bagi kita semua. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga isu identitas dan keberlanjutan. Setiap sungai yang hilang adalah babak sejarah yang terhapus. Tapi dari setiap kehilangan, ada pelajaran yang bisa dipetik: bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam. Palembang bisa maju tanpa menenggelamkan sungai-sungainya.

Sungai bukanlah musuh. Sungai adalah sahabat yang memberi kehidupan. Saat ini, saat kita masih memiliki 114 sungai, mari kita rawat. Jangan sampai suatu hari nanti, kita hanya bisa bercerita pada anak cucu bahwa dulu di Palembang ada sungai yang indah. Ayo, jaga sungai kita, jaga Palembang kita!