Quiet Quitting: Gerakan Diam-Diam Gen Z dan Milenial yang Mengubah Wajah Dunia Kerja

SUMSELSELNEWS.CO.ID |

Pernah nggak sih kamu merasa tiba-tiba males banget ngelanjutin kerjaan yang numpuk? Atau mungkin kamu sadar kalau lembur sampai larut malam itu cuma bikin kamu capek, tapi gaji juga nggak naik-naik? Tenang, kamu nggak sendirian. Belakangan ini, istilah quiet quitting lagi ramai diperbincangkan, terutama di kalangan pekerja muda seperti Gen Z dan Milenial. Bukan berarti mereka benar-benar berhenti kerja, tapi lebih ke “mengundurkan diri secara diam-diam” dari tuntutan kerja yang berlebihan.

Fenomena ini muncul sebagai respons atas budaya kerja yang kadang nggak masuk akal—harus selalu siap 24 jam, dianggap wajar lembur tanpa bayaran, dan ekspektasi tinggi dari atasan yang kadang nggak realistis. Padahal, di sisi lain, hidup nggak cuma soal kerja. Ada keluarga, teman, hobi, dan tentu saja kesehatan mental yang perlu dijaga.

Nah, di artikel kali ini, kita bakal ngobrolin tuntas tentang apa itu sebenarnya quiet quitting? Kenapa fenomena ini begitu populer? Apa sih dampaknya buat perusahaan dan pekerja itu sendiri? Dan yang paling penting, bagaimana kita bisa menyikapinya dengan bijak tanpa harus kehilangan semangat atau karier? Yuk, simak terus!

Apa Itu Quiet Quitting? Bukan Malas, Tapi…

Istilah quiet quitting mungkin terdengar agak menyeramkan. Banyak yang salah paham dan menganggap ini sebagai bentuk kemalasan atau ketidakprofesionalan. Tapi, sebenarnya quiet quitting adalah sebuah sikap sadar untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawab dan deskripsi kerja, tanpa merasa harus selalu overdeliver atau mengorbankan waktu pribadi.

Jadi, bukan berarti kamu berhenti kerja, melainkan kamu berhenti untuk memberikan extra mile yang sebenarnya nggak sebanding dengan imbalan yang kamu terima. Misalnya, kamu tetap datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan baik, dan pulang sesuai jam kerja. Tapi, kamu nggak lagi merasa terbebani untuk membalas email di malam hari, lembur tanpa diminta, atau mengambil proyek tambahan yang hanya akan menguras energi.

Fenomena ini mirip dengan konsep acting your wage—melakukan pekerjaan sesuai dengan bayaran yang kamu terima. Ini bukan tentang menurunkan kualitas kerja, melainkan tentang menetapkan batas yang sehat antara kehidupan profesional dan pribadi.

Asal Usul Istilah yang Ramai di TikTok

Istilah quiet quitting sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi baru benar-benar viral pada pertengahan 2022 ketika seorang insinyur bernama Zaid Khan membagikan videonya di TikTok. Dalam video tersebut, ia menjelaskan bahwa quiet quitting bukan berarti berhenti dari pekerjaan, melainkan berhenti dari gagasan bahwa kamu harus mengorbankan hidupmu demi pekerjaan.

Video itu dengan cepat ditonton jutaan kali dan memicu perdebatan besar. Banyak pekerja yang merasa relate, terutama mereka yang sudah kelelahan dengan budaya “hustle culture” yang mendewakan kerja keras tanpa henti. Di sisi lain, banyak juga pemilik bisnis atau manajer yang menganggap sikap ini sebagai ancaman bagi produktivitas perusahaan.

Apapun pendapatnya, satu hal yang jelas: quiet quitting adalah gejala dari perubahan besar dalam cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan.

Kenapa Quiet Quitting Begitu Populer di Kalangan Gen Z dan Milenial?

Ada beberapa alasan utama kenapa fenomena ini begitu meluas, terutama di kalangan pekerja muda. Mari kita bedah satu per satu.

1. Kelelahan Akibat Budaya Kerja Toksik

Banyak generasi muda yang tumbuh dengan menyaksikan orang tua mereka bekerja keras, bahkan sampai sakit-sakitan, namun tetap saja kesulitan secara finansial. Mereka sadar bahwa kerja keras belumlah cukup jika tidak diimbangi dengan keseimbangan hidup.

Budaya kerja yang menuntut selalu siap sedia 24/7, dianggap wajar lembur tanpa bayaran, dan tekanan untuk selalu available di luar jam kerja sudah sangat umum. Hal ini menyebabkan burnout yang parah. Quiet quitting menjadi semacam mekanisme pertahanan diri: “Aku nggak mau sampai burnout lagi demi pekerjaan yang nggak menghargai waktu pribadiku.”

Baca Juga  Pj Bupati Muba Sampaikan Rancangan KUPA PPAS Perubahan APBD 2023

2. Ketidakseimbangan Antara Upah dan Beban Kerja

Gaji yang stagnan di tengah inflasi yang terus naik membuat banyak pekerja merasa bahwa usaha ekstra yang mereka berikan tidak sepadan. Mereka melihat bahwa atasan atau perusahaan mendapatkan keuntungan lebih besar dari kerja keras mereka, sementara mereka sendiri hanya mendapatkan kenaikan gaji kecil atau bahkan tidak sama sekali. Akhirnya, muncullah perasaan: “Ya sudahlah, saya lakukan apa yang menjadi tugas saya. Tidak perlu lebih.”

3. Prioritas pada Kesehatan Mental

Gerakan kesehatan mental yang semakin masif juga mempengaruhi pandangan terhadap pekerjaan. Generasi muda lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Mereka tidak mau terjebak dalam lingkungan kerja yang toxic, yang bisa memicu stres, depresi, atau kecemasan. Quiet quitting adalah salah satu cara untuk menjaga jarak dari tekanan tersebut.

4. Perubahan Nilai dan Prioritas Hidup

Banyak orang mulai mempertanyakan: “Apa arti sukses? Apakah harus selalu sibuk bekerja sampai lupa hidup? Atau justru bisa menikmati hidup dan tetap memiliki karier yang stabil?” Fenomena ini merepresentasikan perubahan nilai. Daripada mengejar jabatan atau gaji besar dengan mengorbankan waktu bersama keluarga dan teman, mereka memilih untuk work to live, not live to work.

Dampak Quiet Quitting terhadap Perusahaan dan Pekerja

Fenomena ini tentu saja memiliki dua sisi. Ada dampak positif dan negatif, baik bagi perusahaan maupun bagi pekerja itu sendiri.

Dampak bagi Perusahaan

Dari sudut pandang perusahaan, quiet quitting bisa menjadi masalah serius. Jika banyak karyawan yang mulai “menarik diri” secara diam-diam, produktivitas tim bisa menurun. Budaya inovasi juga bisa terhambat karena orang-orang tidak lagi mau ambil inisiatif lebih. Selain itu, ketika semangat kerja menurun, kualitas pelayanan kepada klien atau pelanggan juga bisa terpengaruh.

Namun, ada sisi positifnya juga. Perusahaan jadi sadar bahwa mereka harus memperbaiki sistem kerja. Mereka mulai mengevaluasi ulang apakah beban kerja sudah adil, apakah kompensasi sudah sesuai, dan apakah ada budaya kerja yang toksik yang perlu diubah. Dengan kata lain, quiet quitting bisa menjadi alarm bagi perusahaan untuk berbenah.

Dampak bagi Pekerja

Bagi pekerja, quiet quitting bisa memberikan kelegaan karena tekanan kerja berkurang. Waktu pribadi lebih terjaga, stres menurun, dan keseimbangan hidup lebih baik. Namun, ada juga risikonya. Jika dilakukan secara berlebihan, bisa saja kinerja dianggap menurun drastis sehingga peluang promosi atau kenaikan gaji menjadi hilang. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) jika perusahaan merasa karyawan tidak lagi produktif.

Kuncinya adalah tetap profesional. Quiet quitting bukan alasan untuk malas-malasan atau cuek total terhadap pekerjaan. Ini tentang menetapkan batasan yang sehat, bukan berhenti bekerja.

Bagaimana Menyikapi Quiet Quitting dengan Bijak?

Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti, baik oleh pekerja maupun perusahaan. Justru, perlu disikapi dengan bijak agar semua pihak mendapatkan manfaat.

Bagi Pekerja: Jangan Sampai Terjebak Ekstrem

  • Tetap profesional: Selesaikan tugas sesuai standar yang diharapkan. Jangan sampai kualitas kerja menurun drastis karena ini bisa merugikan dirimu sendiri di masa depan.
  • Komunikasikan batasanmu: Daripada diam-diam menarik diri, cobalah untuk berbicara dengan atasan secara terbuka. Jelaskan bahwa kamu perlu waktu untuk istirahat dan tidak bisa selalu siap sedia di luar jam kerja. Komunikasi yang baik bisa membuat kedua belah pihak saling mengerti.
  • Fokus pada pengembangan diri: Meskipun kamu tidak lembur atau mengambil proyek tambahan, pastikan kamu tetap belajar dan mengembangkan keterampilan. Ini penting untuk karier jangka panjang.

Bagi Perusahaan: Jadikan Sebagai Bahan Evaluasi

  • Cari tahu akar masalahnya: Kenapa karyawan mulai menarik diri? Apakah karena beban kerja terlalu berat? Atau karena kompensasi yang kurang? Atau mungkin budaya kerja yang tidak sehat? Lakukan survei atau diskusi terbuka.
  • Tawarkan fleksibilitas: Banyak karyawan yang lebih termotivasi ketika mereka memiliki kendali atas waktu dan cara mereka bekerja. Pertimbangkan untuk menerapkan jam kerja yang fleksibel atau kerja jarak jauh jika memungkinkan.
  • Hargai kontribusi: Berikan apresiasi kepada karyawan yang bekerja dengan baik. Penghargaan tidak harus selalu berupa uang; bisa juga berupa pengakuan, kesempatan belajar, atau suasana kerja yang lebih nyaman.
Baca Juga  Diterpa Timbunan Enceng Gondok dan Derasnya Arus, Jembatan Srigeni Putus

Fakta atau Mitos: Apakah Quiet Quitting Sama Dengan Malas?

Ini adalah pertanyaan penting yang perlu diluruskan. Banyak yang menganggap bahwa quiet quitting adalah bentuk kemalasan. Padahal, tidak seperti itu. Orang yang melakukan quiet quitting biasanya masih menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan baik, hanya saja mereka menolak untuk melakukan pekerjaan di luar batas kewajaran.

Mereka masih datang tepat waktu, mengerjakan proyek dengan cermat, dan tidak membuat masalah. Bedanya, mereka berhenti melakukan hal-hal ekstra seperti merespons email di malam hari, lembur tanpa diminta, atau mengambil pekerjaan tambahan yang tidak dibayar. Jadi, ini lebih tentang mendefinisikan ulang apa arti “bekerja dengan baik” bukan tentang malas.

Mitos lain adalah bahwa quiet quitting akan menghancurkan karier. Faktanya, banyak pekerja yang justru lebih bahagia dan lebih produktif secara keseluruhan setelah menetapkan batasan yang sehat. Tanpa burnout, mereka bisa fokus pada kualitas kerja, bukan kuantitas waktu.

Perbandingan dengan Fenomena Lain: Hustle Culture vs Great Resignation

Quiet quitting sering dikaitkan dengan great resignation (pengunduran diri massal) atau hustle culture. Ketiganya adalah reaksi terhadap kondisi kerja yang sama, tapi dengan respon yang berbeda.

  • Hustle culture: Budaya yang mendewakan kerja keras tanpa henti. Seseorang dianggap kurang sukses jika tidak selalu sibuk. Dalam hustle culture, lembur dan bekerja di akhir pekan adalah hal biasa dan dianggap sebagai tanda kesuksesan.
  • Great resignation: Fenomena di mana karyawan secara massal memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mencari peluang baru, seringkali dengan harapan mendapatkan keseimbangan hidup yang lebih baik.
  • Quiet quitting: Di tengah-tengah antara hustle culture dan great resignation. Mereka tidak berhenti total, tetapi juga tidak mau terlibat dalam budaya kerja yang berlebihan. Mereka memilih untuk tetap bekerja, tapi dengan batasan yang jelas.

Jadi, quiet quitting adalah bentuk adaptasi yang lebih moderat. Ini bisa dilihat sebagai solusi sementara bagi mereka yang belum siap untuk berhenti total, tapi juga tidak mau terus terjebak dalam hustle culture.

Apakah Quiet Quitting akan Bertahan Lama?

Pertanyaan ini menarik karena fenomena ini sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan sosial. Ketika pasar tenaga kerja sedang ketat (banyak lowongan, sedikit pelamar), pekerja memiliki kekuatan tawar yang lebih besar. Dalam situasi seperti itulah quiet quitting bisa bertahan atau bahkan berkembang. Namun, jika ekonomi sedang sulit dan banyak orang kehilangan pekerjaan, maka pekerja akan cenderung lebih berhati-hati dan mungkin kembali ke pola kerja lama.

Namun, terlepas dari kondisi ekonomi, perubahan pola pikir generasi muda terhadap keseimbangan hidup sudah terjadi. Mereka tumbuh dengan kesadaran akan kesehatan mental yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kemungkinan besar quiet quitting tidak akan hilang begitu saja. Justru, ia bisa menjadi norma baru dalam dunia kerja, di mana batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin jelas.

Studi Kasus: Cerita Nyata dari Para Pelaku Quiet Quitting

Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, mari kita lihat beberapa contoh yang sering ditemui di dunia kerja.

Kasus 1: Andi, Karyawan Marketing yang Jenuh

Andi bekerja di sebuah agensi periklanan. Awalnya ia bersemangat dan sering lembur demi klien. Namun, setelah dua tahun, ia merasa lelah secara mental. Bosnya terus menuntut ide-ide baru dan sering menghubunginya di malam hari. Gajinya juga hanya naik sedikit. Akhirnya, Andi memutuskan untuk melakukan quiet quitting. Ia datang tepat waktu, mengerjakan tugas dengan baik, namun tidak lagi mengambil panggilan bos di atas jam 19.00. Ia juga tidak lagi mengajukan diri untuk proyek ekstra. Hasilnya? Ia merasa lebih tenang, tapi hubungan dengan bos menjadi sedikit renggang karena bos merasa ia tidak lagi “berdedikasi”.

Kasus 2: Dewi, Accountant yang Lebih Bahagia

Dewi bekerja di perusahaan multinasional. Sebelumnya, ia selalu berusaha jadi yang terbaik: lembur setiap hari, mengambil kursus tambahan di akhir pekan. Tapi ia sadar bahwa ia kehilangan waktu bersama anak dan suaminya. Ia kemudian menerapkan quiet quitting dengan cara membuat batasan yang jelas. Ia tetap menyelesaikan laporan keuangan dengan akurat, namun ia tidak lagi mengejar overtime yang tidak dibayar. Perusahaan sempat mengkritiknya, tapi karena kualitas kerjanya tetap baik, mereka akhirnya menerima. Kini Dewi lebih bahagia karena bisa pulang tepat waktu dan menghabiskan waktu dengan keluarga.

Dua cerita ini menunjukkan bahwa quiet quitting bisa berhasil jika dilakukan dengan cerdas. Namun, tidak semua lingkungan kerja toleran terhadap perubahan ini. Beberapa perusahaan yang kaku mungkin akan bereaksi negatif.

Solusi untuk Menghadapi Quiet Quitting di Tempat Kerja

Baik sebagai pekerja maupun pemimpin, kita perlu mencari solusi yang saling menguntungkan. Berikut beberapa langkah praktis:

Untuk Pekerja:

  1. Evaluasi prioritas: Apa yang paling penting bagimu saat ini? Apakah kenaikan jabatan atau keseimbangan hidup? Buat keputusan yang sesuai dengan nilai-nilaimu.
  2. Berdiskusi dengan atasan: Jangan diam saja. Coba bicarakan beban kerjamu dan carilah solusi bersama. Mungkin atasan tidak sadar bahwa kamu kewalahan.
  3. Jaga kualitas kerja: Meskipun kamu menarik diri dari pekerjaan ekstra, pastikan tugas utama tetap selesai dengan baik. Jangan sampai reputasimu hancur.

Untuk Manajer/Perusahaan:

  1. Dengarkan karyawan: Adakan pertemuan rutin untuk mendengar keluhan dan masukan. Jangan hanya fokus pada target.
  2. Evaluasi kembali beban kerja: Apakah jumlah pekerjaan sesuai dengan jumlah karyawan? Jangan sampai terjadi ketimpangan.
  3. Tawarkan insentif yang berarti: Bukan hanya uang, tapi juga fleksibilitas, pelatihan, atau pengakuan atas kerja keras.
  4. Bangun budaya kerja yang sehat: Dorong karyawan untuk istirahat, ambil cuti, dan jangan mengagung-agungkan lembur.

Kesimpulan: Antara Idealisme dan Realitas

Quiet quitting adalah respon alamiah dari pekerja yang lelah dengan tuntutan kerja yang tidak masuk akal. Ini bukanlah sebuah gerakan radikal, melainkan bentuk adaptasi yang wajar di tengah perubahan nilai-nilai kehidupan. Di satu sisi, fenomena ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya soal pekerjaan. Di sisi lain, kita juga harus tetap realistis: kebutuhan finansial dan karier tetap penting.

Yang terbaik adalah menemukan titik tengah. Bekerja dengan baik dan profesional, tetapi juga jangan sampai melupakan diri sendiri. Komunikasikan batasanmu dengan jelas, dan jika perusahaan tidak bisa menghargai itu, mungkin sudah saatnya mencari tempat yang lebih sesuai.

Pada akhirnya, quiet quitting bukanlah musuh. Ia adalah cermin dari apa yang salah dalam budaya kerja modern. Daripada menyalahkan satu sama lain, lebih baik kita bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang adil, manusiawi, dan tetap produktif.

Jadi, bagaimana pendapatmu tentang quiet quitting? Apakah kamu pernah merasakannya? Atau justru kamu seorang manajer yang sedang kebingungan menghadapi tim yang mulai “menarik diri”? Apapun itu, yang penting kita terus belajar dan beradaptasi. Karena dunia kerja akan terus berubah, dan kita harus siap menghadapinya dengan bijak.