Beranda MUBA Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Muba Masih Mendominasi.

Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Muba Masih Mendominasi.

43
0

Kasus kekerasan pelecehan seksual anak di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin masih mendominasi dari jenis kekerasan terhadapa perempuan dan anak. Hal itu terlihat dari hasil rekap jumlah kasus yang ditangani oleh Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Muba.

Dari jumlah rekapitulasi kekerasan perempuan dan anak pada unit pelayanan perempuan dan anak Polres dan bidang perlindungan perempuan dan anak Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2019 tercatat sebanyak 57 Kasus.

“Total perkara, di UPPA Polres Muba sebanyak 34 Kasus di Bidang PPA 23 sehingga total kasus di tahun 2019 sebayak 57 kasus. Namun dari jenis kekerasan yang paling mendominasi yakni menyetubuhi anak yakni 14 kasus.”Ungkap Kepala DPPPA Muba, Dewi Kertika SE, Msi, Minggu (4/7).

Dikatakanya, jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak memiliki bebarapa katagori yakni Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pemerkosaan, penganiayaan menyetubuhi anak, penculikan, pengeroyokan/ penganiayaan anak pencabulan anak, penelantaran keluarga, mempekerjakan anak dibawah umur, perzinahan kekerasan lainnya.

“Jika dilihat dari data tahun 2020, kasus kerasan seksual terhadap sebanyak 53 kasus sedikit terjadi penurunan, namun Jenis kekerasn menyetubuhi anak masih mendominasi yakni 21 kasus.”katanya

Dewi merincikan, di tahun 2020 jumlah Rekapitulasi kekerasan perempuan dan anak pada unit pelayanan perempuan dan anak Polres dan bidang perlindungan perempuan dan anak Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2020 yakni Total perkara yang ditangani UPPA Polres Muba sebanyak 20 kasus, perempuan 20 kasus dan anak 9 kasus. Bidang PPA perempuan 4 kasus dan anak 20 kasus total ada 53 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ditahun 2020 Jenis kekerasn menyetubuhi anak masih mendominasi yakni 21 kasus.

“Tipisnya iman salah satu faktor, dari itu kami dari DPPPA terus gencar mendorong dan mensosialisasikan surat edaran nomor 263/217DPPPA III/2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan dan pelecehan seksual pada anak dan perempuan serta penyandang disabilitas yang ditujukan kepada seluruh pihak pemerintah Kecamatan dan pemerintah Desa agar memperbanyak kegiatan-kegiatan keagamaan,”bebenya.

Lanjut Dewi, untuk jumlah Rekapitulasi kekerasan perempuan dan anak pada unit pelayanan perempuan dan anak Polres dan bidang perlindungan perempuan dan anak Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Musi Banyuasin per maret tahun 2021 jumlah total kasus sebanyak 22 kasus. dimana kasus yang ditangani UPPA Polres Muba Kekerasan pada perempuan sebanyak 12 kasus. Anak 3 kasus.Bidang PPA Kekerasan pada perempuan sebanyak 2 kasus, anak 5 kasus.

” dari itu kami terus menghimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat lembaga pendidikan tokoh agama tokoh masyarakat dan para orang tua agar untuk bersama-sama melakukan pencegahan kekerasan seksual terhadap anak terlebih dalam kondisi pandemi covid 19 yang saat ini masih mewabah,”imbaunya.

Sementara, di singgung terkait kondisi selama masa Pendemi covid 19 yang saat ini masih mewabah,terkait kasus kekerasan yang terjadi pada anak dalam rumah tangga, apakah terjadi peningkatan, dewi menyebut hingga saat ini belum ada laporan yang masuk di DPPPA, Namun laporan anak yang putus sekolah yang saat ini terjadi.

Lebih lanjut, Kalau kekerasan anak yang menyebabkan anak tarauma seperti dipukul atau sebagainya Dewi menyebut tidak ada, tapi anak putus sekolah mungkin banyak Terutama ke SLTA kan SLTA bayar tidak gratis. Covid memang bencana semua pihak Kami (DPPPA) pun bingung dengan dampak pergeseran tatanan norma di masyarakat dan keluarga apa yang bisa kita perbuat kita pembinaan tidak bisa, webinar entah didengar entah tidak apalagi signal di kecamatan sulit upaya yang terus dilakukan saat ini kami terus menyerukan camat dan Kades untuk lebih memperhatikan warganya masing masing dan menyeru para orang tua untuk menjaga anak anaknya.

“Sebenarnya dalam kondisi pandemi covid 19, yang membuat stres para orang tua jadi sasarannya ke anak apalagi iman mereka tipis gelap mata. Sebenarnya yang berubah dan stress bukan anak anak, tapi para orang tua kemiskinan,ketakutan,kelelahan,kesulitan bergerak mencari sumber ekonomi semuanya membuat stress para orang tua,”tutupnya.

Tanggal Update on 4 Juli 2021 by admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here