Padang Ancol Makin Ramai, Sampah Berserak, Kades Firmansyah Agendakan Jumat Bersih dan Susun Aturan Baru

Sumselnews.co.id – Tanjung Atap, Ogan Ilir | Padang Ancol di Desa Tanjung Atap, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, kembali menjadi magnet wisata musiman saat air Sungai surut, Senin (20/7/2026). Ratusan warga dari berbagai desa, khususnya di Kecamatan Tanjung Batu, memadati kawasan tersebut untuk berekreasi bersama keluarga. Namun, di balik ramainya pengunjung dan bergeliatnya ekonomi masyarakat, wajah Ancol justru tercoreng oleh tumpukan sampah yang berserakan hampir di setiap sudut kawasan.

Desa Tanjung Atap merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten Ogan Ilir. Desa ini dikenal luas melalui pantun legendaris “Tap-Tap Tanjung Atap”. Selain itu, desa ini juga memiliki Padang Ancol, kawasan padang rumput yang sejak zaman dahulu menjadi ruang berkumpul masyarakat dan hingga kini tetap menjadi ikon yang melekat di tengah kehidupan warga.

Setiap musim air surut, Padang Ancol berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain layang-layang dan sepak bola, remaja berkumpul bersama teman, keluarga menggelar makan bersama, sementara para pemancing memanfaatkan tepian sungai untuk mencari ikan. Bahkan, orang tua turut menikmati suasana dengan menemani anak-anak bermain hingga sore hari.

Ramainya pengunjung juga membawa berkah bagi para pelaku UMKM. Puluhan pedagang memanfaatkan momen tersebut untuk menjual aneka makanan dan minuman. Perputaran uang meningkat, sehingga kawasan Ancol menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Desa Tanjung Atap dan sekitarnya.

Namun, hasil pantauan awak media menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Bungkus makanan, gelas plastik, botol minuman, kantong kresek, dan berbagai jenis sampah lainnya tampak berserakan di padang rumput. Sebagian sampah bahkan terbawa angin hingga masuk ke halaman rumah warga yang berada di sekitar kawasan Ancol.

Ironisnya, keindahan Padang Ancol sebagai ikon wisata desa justru terancam oleh rendahnya kepedulian terhadap kebersihan. Masih ditemukan pengunjung yang meninggalkan sampah begitu saja usai menikmati jajanan. Di sisi lain, belum semua pedagang menyediakan tempat sampah di lapaknya, sehingga sampah lebih banyak berakhir di atas hamparan rumput dibandingkan di tempat pembuangan.

Kondisi tersebut mendapat perhatian warga yang berharap seluruh pihak memiliki rasa tanggung jawab menjaga kebersihan kawasan. Menurut mereka, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa ataupun pedagang, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara pedagang, pengunjung, dan masyarakat.

Apabila kondisi ini terus dibiarkan, Padang Ancol dikhawatirkan kehilangan daya tariknya sebagai destinasi wisata musiman. Selain mengganggu kenyamanan pengunjung, tumpukan sampah juga berpotensi mencemari lingkungan dan merusak citra Desa Tanjung Atap yang selama ini dikenal memiliki salah satu ruang wisata terbuka kebanggaan masyarakat Ogan Ilir.

Masyarakat berharap pemerintah desa bersama instansi terkait dapat menambah fasilitas tempat sampah, memasang papan imbauan, serta meningkatkan edukasi kepada pedagang dan pengunjung. Dengan langkah tersebut, Padang Ancol diharapkan tetap menjadi ruang rekreasi yang bersih, nyaman, sekaligus simbol kebanggaan Desa Tanjung Atap dan Desa Tanjung Atap Barat yang dapat dinikmati hingga generasi mendatang.

Saat ditemui awak media di kediamannya, Kepala Desa Tanjung Atap, Firmansyah, S.Sos.I, membenarkan persoalan sampah di kawasan Padang Ancol dan mengapresiasi perhatian media terhadap kondisi tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada awak media yang telah mengangkat persoalan sampah di Ancol ini. Apa yang diberitakan memang benar adanya. Sejak awal menjabat sebagai kepala desa, kami sudah berupaya melakukan berbagai langkah, mulai dari menggelar gotong royong dengan melibatkan anak-anak sekolah SD dan Diniyah, menugaskan petugas untuk mengurus sampah, memberikan imbauan kepada para pedagang dan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, hingga menyediakan tempat sampah,” ujarnya.

Firmansyah menambahkan, ke depan Pemerintah Desa akan memanggil para pedagang untuk bermusyawarah, membentuk tim khusus penanganan kebersihan, menambah fasilitas tempat sampah, serta merumuskan sejumlah aturan yang dianggap perlu untuk menjaga kebersihan kawasan Padang Ancol.

“Secara pribadi sebagai kepala desa, saya juga telah mengagendakan program Jumat Bersih hingga akhir masa jabatan nanti. Kami ingin persoalan sampah ini ditangani secara berkelanjutan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa kawasan Padang Ancol merupakan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Para pengunjung bebas datang dan para pedagang bebas berjualan tanpa adanya kewajiban meminta izin kepada pemerintah desa.

“Karena itu, kami berharap kepada seluruh pihak yang berkepentingan dengan Ancol agar memiliki kesadaran dan kepedulian untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan kebersihan Padang Ancol. Yang paling penting adalah tumbuhnya rasa memiliki terhadap Ancol sebagai aset bersama demi kebaikan masyarakat,” tutup Firmansyah. (12)