SumselNews.Co.Id | Bidar, lomba perahu tradisional yang identik dengan Kota Palembang, bukan sekadar sebuah ajang perlombaan biasa. Lebih dari itu, Bidar adalah napak tilas sejarah panjang, simbol kebudayaan, dan cerminan jiwa bahari masyarakat Palembang yang tak terpisahkan dari denyut Sungai Musi. Setiap perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Sungai Musi di Palembang menjadi saksi bisu kemeriahan lomba Bidar, menarik ribuan pasang mata dan menjadi magnet bagi wisatawan. Namun, jauh sebelum menjadi tontonan spektakuler yang kita kenal sekarang, Bidar telah menempuh perjalanan historis yang menarik dan mendalam.
Asal Mula dan Akar Budaya Bidar
Sejarah Bidar di Palembang memiliki akar yang sangat dalam, terhubung erat dengan kehidupan masyarakat yang sejak dahulu kala menggantungkan hidupnya pada Sungai Musi. Perahu-perahu panjang dan ramping merupakan alat transportasi utama, penghubung antardesa, bahkan sarana vital dalam perdagangan dan pertahanan. Istilah “Bidar” sendiri diyakini berasal dari bahasa lokal yang merujuk pada jenis perahu panjang dan sempit, didesain untuk kecepatan dan kelincahan di sungai.
Pada masa awal peradaban di tepian Musi, perahu-perahu ini kemungkinan besar digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari transportasi sehari-hari, berburu, memancing, hingga sebagai sarana latihan ketangkasan dan kekuatan para pemuda. Perlombaan atau adu cepat perahu diyakini sudah menjadi bagian dari tradisi lokal sebagai bentuk rekreasi atau bahkan unjuk kekuatan antar komunitas.
Bidar di Era Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam
Jejak Bidar dapat ditelusuri hingga masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, sebuah kemaharajaan maritim yang berpusat di Palembang. Dalam catatan sejarah dan penemuan arkeologi, perahu memegang peranan sentral dalam kekuatan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha. Perahu-perahu berukuran besar digunakan untuk pelayaran jarak jauh, sementara perahu-perahu yang lebih kecil dan cepat kemungkinan besar digunakan untuk keperluan militer atau patroli di sungai-sungai. Tidak menutup kemungkinan bahwa adu kecepatan perahu, termasuk jenis Bidar, adalah bagian dari latihan militer atau perayaan kenegaraan untuk menunjukkan kekuatan armada laut Sriwijaya.
Setelah keruntuhan Sriwijaya dan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam, tradisi menggunakan perahu terus berlanjut dan bahkan berkembang. Lomba perahu jenis Bidar diyakini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan adat atau upacara kerajaan. Perahu-perahu dihias megah dan didayung oleh puluhan pendayung, bukan hanya sebagai ajang adu kecepatan, tetapi juga sebagai demonstrasi kekuatan, kemegahan, dan keterampilan bahari kesultanan.
Transformasi Bidar di Masa Kolonial Hingga Kemerdekaan
Memasuki masa kolonial Belanda, tradisi lomba perahu di Palembang mengalami beberapa perubahan. Pemerintah kolonial melihat potensi hiburan dan penggalangan massa dalam lomba perahu ini. Pada masa ini, perlombaan Bidar mulai diorganisir secara lebih formal dan terstruktur. Ini adalah masa transisi di mana Bidar bergeser dari sekadar tradisi lokal menjadi sebuah event yang lebih bersifat kompetitif dan terencana, kadang diselenggarakan untuk menghibur pejabat kolonial atau sebagai bagian dari perayaan tertentu.
Puncak transformasi Bidar terjadi setelah Indonesia merdeka. Sejak tahun 1950-an, lomba Bidar secara rutin diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemilihan tanggal ini bukan tanpa alasan; lomba Bidar kemudian menjadi simbol perjuangan, semangat kemerdekaan, dan kegotongroyongan. Kekuatan dan kecepatan perahu, serta kekompakan para pendayung, merefleksikan semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan.
Filosofi dan Makna Bidar Masa Kini
Lomba Bidar di Palembang kini tidak hanya sebuah ajang adu cepat, melainkan telah menjadi sebuah festival budaya yang kaya makna. Setiap perahu Bidar, dengan panjang yang bisa mencapai puluhan meter dan didayung oleh puluhan orang, melambangkan kekompakan dan sinergi. Tanpa kekompakan, mustahil sebuah perahu Bidar dapat bergerak cepat dan stabil. Ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya kerja sama tim dalam mencapai tujuan.
Selain itu, desain perahu Bidar yang unik, dengan ukiran kepala naga atau ikan di bagian depan, juga menambah nilai artistik dan filosofisnya. Naga sering kali melambangkan kekuatan dan kemakmuran, sementara ikan merepresentasikan kehidupan dan kekayaan sungai. Melalui Bidar, masyarakat Palembang merayakan identitas mereka sebagai kota sungai, sekaligus melestarikan warisan leluhur yang tak ternilai harganya.
Kesimpulan
Dari jejak-jejak masa lampau Sriwijaya dan Kesultanan hingga menjadi ikon perayaan kemerdekaan, Bidar adalah saksi bisu perjalanan sejarah Kota Palembang. Lomba perahu ini bukan hanya menunjukkan keahlian mendayung, tetapi juga merangkum semangat kebersamaan, perjuangan, dan kecintaan masyarakat Palembang terhadap Sungai Musi. Setiap ayunan dayung dalam lomba Bidar adalah sebuah penghormatan terhadap tradisi, sebuah perayaan identitas, dan sebuah janji untuk terus melestarikan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.

