Pulau Seribu Palembang: Jejak Sejarah Ibu Raden Fatah dan Warisan Kesultanan

Pulau Seribu di Kecamatan Kertapati menyimpan sejarah, budaya sungai, dan lanskap alam yang masih lestari.

 

Sekilas Pulau Seribu di Palembang

Pulau Seribu adalah destinasi tersembunyi di Palembang, Sumatera Selatan. Terletak di Kecamatan Kertapati, kawasan ini menyajikan panorama pesisir sungai yang asri dan jejak sejarah yang berharga. Bagi penjelajah sejarah lokal, Pulau Seribu menawarkan cerita yang terhubung erat dengan masa Kesultanan Palembang dan perkembangan Islam di Nusantara.

Makam Subansi – Ibu dari Raden Fatah

Di Pulau Seribu terdapat sebuah titik yang oleh tradisi setempat diyakini sebagai makam Siu Banci (sering ditulis Subansi), ibu dari Raden Fatah—pendiri Kesultanan Demak, raja Islam pertama di Pulau Jawa. Dalam sejarah lisan, beliau dijuluki Ratu Retno, Putri Cina, atau Putri Champa, dan ada yang menyebut nama Islamnya Siti Fatimah.

Masyarakat menyebut situs ini sebagai Buyut Cantik Bintina. Kondisinya belum tertata optimal—terdapat sisa nisan kayu lama, batu-batu tua, serta struktur sederhana yang mencerminkan kurangnya perawatan. Meski begitu, nilai historis dan kulturalnya tetap kuat di ingatan warga.

Catatan: Banyak keterangan tentang identitas dan detail historis situs bertumpu pada tradisi lisan dan referensi sekunder. Penelitian akademik lebih lanjut masih sangat diperlukan.

Bangsal Kuno & Jejak Kesultanan

Tak jauh dari area makam, terdapat bangsal kuno yang menurut warga telah ada sejak masa kolonial Belanda—bahkan mungkin berakar dari era Kesultanan Palembang. Dalam kisah lokal, bangsal ini dikaitkan dengan aktivitas pembuatan batu bata yang dipakai pada proyek-proyek penting di Palembang.

Tradisi lisan juga menghubungkannya dengan pembangunan Benteng Kuto Besak, serta struktur penting lain di kota. Walau memerlukan verifikasi ilmiah lebih dalam, temuan material di sekitar lokasi memperkuat dugaan adanya aktivitas industri masa lampau di Pulau Seribu.

Masjid Syekh Muhammad Ashari – Masjid Tua ke-7 di Palembang

Pulau Seribu menaungi Masjid Syekh Muhammad Ashari yang tercatat dibangun pada 1897 dan dikenal sebagai masjid tua ke-7 di Palembang. Dalam tradisi lisan, masjid ini memiliki kisah karamah—material kayu yang konon berubah menjadi kayu unglen yang lebih kuat dan tahan lama.

Letaknya yang dekat sungai menjadikan masjid ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga simpul budaya—menggambarkan eratnya relasi riverine culture masyarakat Palembang dengan ruang spiritualnya.

Alam & Budaya Sungai yang Lestari

Selain sejarah, Pulau Seribu menawarkan pemandangan pesisir yang menenangkan: rumah-rumah rakit, riak air yang lembut, serta aktivitas warga yang akrab dengan arus sungai. Menyeruput kopi di tepi rumah rakit sembari menyaksikan perahu melintas adalah pengalaman sederhana yang menyisakan kesan mendalam.

Budaya sungai (riverine culture) masih kental—ritme harian masyarakat selaras dengan naik-turun permukaan air. Inilah daya tarik yang jarang ditemui di pusat kota.

Potensi Riset & Pelestarian

Banyaknya jejak masa lalu menjadikan Pulau Seribu berpotensi sebagai laboratorium alam untuk penelitian sejarah dan arkeologi. Ada tradisi lisan yang menyebut Raden Fatah pernah menyandang gelar Panembahan Palembang, mengisyaratkan peran penting kawasan ini pada masanya.

Minimnya modernisasi justru menjaga keaslian lanskap dan artefak. Dengan kurasi yang tepat—dari pemetaan situs, dokumentasi, hingga edukasi publik—Pulau Seribu berpeluang menjadi rujukan wisata sejarah dan pendidikan budaya di Sumatera Selatan.

Kesimpulan

Pulau Seribu adalah mozaik sejarah, budaya, dan alam Palembang. Dari makam yang diperkirakan sebagai makam ibu Raden Fatah, bangsal kuno, hingga Masjid Syekh Muhammad Ashari, seluruhnya menandai pentingnya kawasan ini dalam narasi lokal. Pelestarian berbasis riset dan partisipasi masyarakat menjadi kunci agar warisan ini tetap hidup bagi generasi mendatang.

FAQ

Di mana Pulau Seribu berada?

Di Kecamatan Kertapati, Palembang—terhubung dengan lanskap Sungai Ogan dan Sungai Musi.

Apa yang bisa dilihat di Pulau Seribu?

Situs makam yang diyakini terkait ibu Raden Fatah, bangsal kuno, Masjid Syekh Muhammad Ashari, serta panorama budaya sungai.