Sumselnews.co.id|Jogya- JogyaKegaduhan yang terjadi di dalam tubuh organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terkait dukung mendukung capres-cawapres pada Pemilu 2024 semakin menyeruak.
Hal tersebut di utarakan Arif Budiman mantan Ketua III PMII cabang DIY periode 2016-2017.
Arif mengatakan dukungan PMII kepada cak Imin (Muhaimin Iskandar) yang di deklarasikan oleh ketua Umum PMII sangat menciderai marwah organisasi dan menunjukkan sikap politik yang murahan.
“Ketua umum PMII Abdullah Syukri telah menunjukkan kepemimpinan yang kurang elok dan tidak baik bagi seluruh kader PMII,” kata Arif Budiman kepada media dalam keterangan tertulisnya. Kamis, (7/9/2023).
Arif juga menambahkan seharusnya PMII sebagai organisasi kader harus menjunjung tinggi independensi dan bijak dalam sikap politik. Ia juga mengatakan dengan sikap yang ditunjukkan ketua umum PMII tersebut dirinya menilai bisa mengancam keberlanjutan roda organisasi dan akan menciptakan pengkotak-kotakan bagi kader PMII.
“Saya menegaskan PMII bukan lah PKB dan tidak semua kader PMII mengamini dan tegak lurus pada sikap politik Pengurus Besar PMII. Dan juga tidak semua kader PMII memberikan dukungan pada Cak Imin,” tegas Arif Budiman.
Sementara Mumuh Muhammad Abdul Muhshi Ketua Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga 2014-2015 menegaskan sehubungan dengan adanya keramaian di PMII, Mumuh menyatakan bahwa dukungan atas nama PB PMII yang dilakukan oleh pengurus PB PMII kepada salah satu capres cawapres merupakan tindakan yang tidak bijaksana.
PMII sebagai organisasi kaderisasi bukan sebagai organisasi politik. PMII bukanlah sayap partai, bukan pula banom partai, sehingga adanya deklarasi mengatasnamakan PB PMII adalah tindakan yang merendahkan martabat organisasi, merendahkan tujuan organisasi, merendahkan para founding father PMII, merendahkan marwah kaderisasi PMII,” kata Mumuh Muhammad melalui keterangan tertulisnya. Kamis, (7/9/2023).
Mumuh menjelaskan sebab dari awal PMII didirikan bukan sebagai alat politik, tujuannya sudah jelas dalam AD ART PMII.
Ia juga mengatakan boleh saja mendukung salah satu capres cawapres, tetapi jangan mengatasnamakan organisasi PMII.
“Ada banyak kader PMII bukan hanya di satu partai politik (PKB), tetapi hampir setiap partai politik pasti ada kader PMII. Tak hanya di politik, banyak pula berada dalam sektor lain seperti akademisi, penulis, budayawan, pengusaha, dll. Terlalu rendah dan tak bijak mendeklarasikan dukungan dengan mengatasnamakan PMII. PMII sangatlah mewah, jangan di bawa bawa ke hal yang murah. PMII itu bersama rakyat, terutama kaum yg lemah (mustadh’afin), disitulah PMII berada seperti kita tau madat nya pada PMII Kaderisasi & Advokasi,” tutup Mumuh Muhammad (ril)






