JAKARTA – Seorang pemuda berinisial Anjas (23) tega menikam tetangganya, Asep Jajah Sudrajat (35), hingga tewas di Jalan Hutan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin dini hari. Korban ditemukan tergeletak bersimbah darah di sebuah gang sempit pemukiman padat penduduk dengan luka tusuk di bagian perut dan dada sebelah kiri.
Peristiwa tragis ini diduga berakar dari rasa sakit hati pelaku yang merasa dibohongi terkait penempatannya di sebuah pondok pesantren di Garut, Jawa Barat. Pelaku kini telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kronologi Penikaman di Tengah Pemukiman Padat
Menurut keterangan saksi mata, insiden penikaman tersebut terjadi setelah korban dan pelaku sempat terlibat cekcok mulut. Sebelumnya, pelaku diketahui mencari ibunya di sekitar lokasi kejadian.
Mas Rudi, seorang warga yang menjadi saksi, menceritakan bahwa sebelum kejadian, pelaku datang mencari ibunya hingga dua kali. ‘Awalnya pelaku datang untuk mencari mamanya sampai dua kali. Nah, terus dibilang enggak ada mama enggak di sini,’ ujar Rudi. Pelaku kemudian menghampiri kontrakan korban.
Tak lama berselang, korban yang kala itu tengah menggendong anaknya, terlihat beradu mulut dengan pelaku. Korban sempat menurunkan buah hatinya, namun belum sempat membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Pelaku, yang diketahui membawa sebilah pisau dapur, langsung menikam korban sebanyak dua kali.
‘Pas saya interogasi anak si pelaku tersebut tiba-tiba langsung main tusuk aja di bagian bawah ulu hati dan samping dekat paru-paru,’ tambah Rudi. Akibat serangan mendadak itu, korban langsung tumbang bersimbah darah.
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit oleh warga, namun nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Jasad korban kemudian dievakuasi ke kamar jenazah rumah sakit tersebut untuk proses lebih lanjut.
Motif Diduga Sakit Hati Terkait Pesantren
Dugaan sementara motif penikaman ini adalah rasa kesal dan sakit hati pelaku lantaran merasa dibohongi oleh korban terkait penempatannya di pondok pesantren. Mas Rudi menjelaskan bahwa orang tua pelaku sebelumnya meminta tolong kepada korban untuk membimbing dan membawa Anjas ke sebuah pesantren di Garut, Jawa Barat.
‘Kalau untuk sakit hati mungkin gini. Jadi karena tidak ada tahu si pelaku ini tidak tahu kalau orang tua pelaku ini minta tolong sama si korban untuk anak dibawa ke pesantren. Merasa dibohongilah seperti itu,’ jelas Rudi.
Pelaku diduga tidak mengetahui kesepakatan antara orang tuanya dan korban tersebut, sehingga timbul perasaan sakit hati saat ia harus ditinggalkan di pesantren. Rudi juga menambahkan bahwa orang tua pelaku tidak menyangka kejadian akan berujung fatal.
Hubungan antara korban dan pelaku disebut bukan sebagai keluarga inti, melainkan kerabat atau mantan tetangga. Orang tua pelaku diketahui pernah tinggal di area tersebut sebelum akhirnya pindah. Sebelumnya, tidak ada riwayat konflik serius antara korban dan pelaku.
Penangkapan Pelaku dan Proses Hukum
Pasca penikaman, pelaku sempat berusaha kabur dan melawan saat akan diamankan oleh warga. Warga yang geram sempat menghakimi pelaku sebelum akhirnya polisi tiba di lokasi.
‘Lak tolong tolong tolong pegang-pegang tangkap si Anjas dibunuh. Saya tangkaplah si pelaku. Tidak lama lagi mungkin yang namanya warga udah geram atau padang kan kesal kan makin saling memukuli si pelaku,’ tutur Rudi. Situasi sempat memanas sebelum akhirnya kehadiran polisi meredakan ketegangan.
Petugas kepolisian dari Polres Metro Jakarta Pusat segera mengamankan pelaku dan membawanya untuk menjalani pemeriksaan. Selain menangkap pelaku, polisi juga berhasil mengamankan barang bukti berupa pisau dapur yang digunakan dalam aksi penikaman.
Jurnalis Kresensia Kinanti dari TV One melaporkan dari lokasi kejadian bahwa TKP telah selesai dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), namun garis polisi belum terpasang. Ia juga mengonfirmasi bahwa pelaku, yang diidentifikasi berinisial TA (23), telah diamankan.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap motif pasti dari penikaman ini. Pemeriksaan saksi-saksi dan analisis barang bukti masih terus dilakukan guna melengkapi berkas perkara.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi dalam menyelesaikan permasalahan, terutama yang melibatkan anggota keluarga atau kerabat, agar tidak berujung pada tindakan kekerasan yang merugikan semua pihak.






