SumselNews.co.id PALI | Kericuhan kecil usai penampilan Ghea Indrawari di Festival Candi Bumi Ayu mendadak viral dan ramai dibahas oleh netizen. Melalui unggahan di Instagram, Ghea mengaku kesulitan mendapatkan makanan pada malam hari setelah menghibur warga PALI, hingga membuatnya kelaparan.
Dalam penjelasan terbarunya, Ghea menceritakan kronologi lengkap kejadian tersebut.
“Wow rame ya. Udah kali ini aja aku spill kronologinya. Aku ga mau bahas lagi karena aku love banget sama PALI, dan ga ada masalah sama orang PALI,” tulisnya.
Ghea menyebut tidak ada makanan berat yang disediakan untuk seluruh timnya sesuai dengan riders. Seusai manggung, ia meminta bantuan Event Organizer (EO) untuk mencarikan makanan apa pun yang masih buka di PALI.
“Aku belum makan dari siang. Kita ga bisa pesan ojol dan ga bisa keluar makan karena harus ke Palembang jam 2. Tapi katanya semua udah tutup. Ini bukan masalah uang, tapi mau beli apa dan gimana caranya,” jelas Ghea.
Ia bahkan mencari informasi tempat makan melalui Instagram Story dan mengirimkannya ke EO. Namun, informasi tersebut tidak segera ditindaklanjuti.
Ghea menegaskan bahwa ia tidak meminta tim keluar sendiri karena sopir harus beristirahat sebelum perjalanan empat jam menuju Palembang.
Aku kirain EO bawa makanan, ternyata malah minta aku take down story. Padahal 45 menit sebelumnya katanya mereka debat sama logistik soal kenapa ga nyiapin makanan berat buat timku,” ungkapnya.
Menurut Ghea, timnya sudah sangat lelah dan hanya makan seadanya. Bahkan mereka sempat terlambat menuju bandara karena menunggu EO.
Meski kecewa dengan pelayanan EO, Ghea menegaskan bahwa ia tidak memiliki masalah dengan masyarakat PALI maupun jalannya acara.
“Event-nya lancar, aku happy, tim happy, Pak Bupati baik, warga PALI seru. Cuma EO-nya aja yang aku kecewa. Dah segitu aja. Love PALI,” tutupnya.
Tanggapan Aktivis Daerah
Aktivis pemerhati daerah, James Sinobang, turut menyoroti kejadian ini dan menyayangkan kurangnya kesiapan panitia dan EO dalam menangani kebutuhan artis yang tampil di acara besar seperti Festival Candi Bumi Ayu.
Menurut James, kejadian ini menunjukkan minimnya kualitas pengelolaan acara di Kabupaten PALI.
“Panitia terkesan asal-asalan. Mereka salah pilih EO. Seorang artis yang datang menghibur warga PALI tidak seharusnya kelaparan setelah manggung. Itu tidak etis,” ujarnya.
James menambahkan bahwa daerah dengan kuliner khas seperti Sego Rarung dan makanan tradisional lainnya semestinya dapat menyediakan hidangan yang layak untuk artis dan tim.
“Event sebesar ini pasti sudah dirancang jauh hari. Kok bisa sampai tidak ada makanan untuk artis? Ke mana panitia, ke mana tim pendukung, dan apa yang dilakukan EO saat Ghea mengeluh kelaparan?” tegasnya.

