Festival Sriwijaya 2026: Merajut Budaya, Sejarah, dan Potensi Pariwisata Sumatera Selatan

SUMSELSELNEWS.CO.ID |

Bayangkan kamu berdiri di tepi Sungai Musi, angin sore membawa aroma campuran rempah dan asap dapur tradisional. Lampu-lampu warna-warni mulai menyala, menghias panggung raksasa yang menjulang di Taman Kambang Iwak. Dari kejauhan terdengar alunan musik gambus bersahutan dengan tabuhan gendang. Itulah gambaran sekilas Festival Sriwijaya 2026—sebuah perayaan yang bukan sekadar pesta, melainkan sebuah napas panjang peradaban Sumatera Selatan yang hendak dirajut kembali.

Festival Sriwijaya bukanlah nama baru di telinga warga Palembang dan sekitarnya. Namun, edisi 2026 ini terasa istimewa. Setelah masa-masa penuh tantangan global, semangat untuk menggelar acara budaya berskala besar kembali menggelora. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan pariwisata, ekonomi kreatif, dan terutama rasa bangga terhadap warisan leluhur. Di tengah gempuran modernisasi, festival ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu keemasan Sriwijaya dengan masa depan Sumatera Selatan yang gemilang.

Artikel ini akan mengajak kamu menyelami lebih dalam tentang Festival Sriwijaya 2026. Mulai dari akar sejarahnya yang kental, berbagai atraksi yang memukau, hingga dampak nyata yang dirasakan oleh pelaku UMKM dan masyarakat lokal. Bukan cuma informasi, tapi juga cerita tentang bagaimana sebuah festival bisa menjadi roh kehidupan bagi sebuah daerah.

Mengenal Festival Sriwijaya: Lebih dari Sekadar Panggung Hiburan

Festival Sriwijaya pertama kali digagas sebagai upaya untuk merevitalisasi kembali ingatan kolektif tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat maritim dan perdagangan di Asia Tenggara. Kerajaan yang berdiri sejak abad ke-7 ini meninggalkan jejak yang begitu dalam di tanah Sumatera Selatan, terutama di kawasan Palembang dan sekitarnya. Dari candi-candi peninggalan, sistem sungai yang menjadi jalur perdagangan, hingga tradisi budaya yang masih dilestarikan hingga kini.

Edison (nama samaran), seorang budayawan lokal yang aktif dalam kepanitiaan festival, menjelaskan bahwa Festival Sriwijaya bukanlah sekadar acara seremonial. “Ini adalah gerakan budaya. Kami ingin generasi muda tidak hanya tahu nama Sriwijaya sebagai nama bandara atau jalan, tapi mereka merasakan langsung bagaimana gemerlapnya peradaban itu lewat seni, kuliner, dan semangat gotong royong,” ujarnya dalam sebuah diskusi persiapan festival.

Pada tahun 2026, tema yang diusung adalah “Merajut Kembali Benang Emas Sriwijaya”. Maknanya dalam: benang emas merujuk pada jalinan perdagangan, toleransi, dan kebudayaan yang pernah menyatukan berbagai bangsa di bawah panji Sriwijaya. Kini benang itu hendak dirajut ulang oleh tangan-tangan kreatif masyarakat Sumatera Selatan.

Latar Belakang Sejarah: Kenapa Sriwijaya Begitu Penting?

Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam suasana festival, penting untuk memahami akar sejarah yang menjadi fondasi acara ini. Kerajaan Sriwijaya bukanlah kerajaan biasa. Dalam catatan para pelancong Tiongkok, India, dan Arab, Sriwijaya disebut sebagai bandar besar yang makmur. Di puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan menjadi pusat studi agama Buddha. Banyak biksu dari Tiongkok singgah di sini untuk menerjemahkan kitab suci sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Namun, seiring waktu, kejayaan itu pudar. Berbagai faktor mulai dari perubahan jalur perdagangan, serangan kerajaan lain, hingga pendangkalan sungai menyebabkan Sriwijaya perlahan meredup. Tetapi, semangatnya tidak pernah benar-benar hilang. Hingga kini, di beberapa desa di Sumatera Selatan, tradisi seperti ritual sedekah sungai, tarian Tanggai, dan pembuatan songket masih menjadi denyut nadi kehidupan.

Festival Sriwijaya hadir untuk menyalakan kembali api sejarah itu. Bukan dengan cara kaku seperti di museum, melainkan dengan kemasan yang segar, interaktif, dan relevan dengan kehidupan masa kini. Di situlah letak keistimewaannya.

Geliat Festival Sriwijaya 2026: Berbagai Atraksi yang Memukau

Festival Sriwijaya 2026 dipusatkan di beberapa lokasi strategis di Palembang, antara lain Benteng Kuto Besak, kawasan Jembatan Ampera, dan Taman Kambang Iwak. Durasi festival berlangsung selama sepuluh hari—lebih panjang dari edisi sebelumnya—agar pengunjung bisa menikmati setiap sisi acara dengan lebih leluasa. Berbagai atraksi utama patut menjadi incaran.

1. Panggung Utama: Harmoni Musik dan Tari Tradisional

Setiap malam, panggung utama di Taman Kambang Iwak menjadi pusat perhatian. Penampilan yang paling dinanti adalah kolaborasi antara musik tradisional dan kontemporer. Misalnya, akapela dari vokal grup lokal yang membawakan lagu daerah dengan aransemen modern, atau pertunjukan tari Gending Sriwijaya yang diperagakan oleh seratus penari berbakat.

Tari Gending Sriwijaya sendiri adalah ikon budaya Sumsel. Tarian yang dulunya digunakan untuk menyambut tamu agung kerajaan ini memiliki gerakan yang anggun dan penuh makna. Busananya pun cantik: songket merah dan emas dengan hiasan kepala yang menjulang. Saat para penari melenggak di atas panggung, sorak penonton membahana. Suasana menjadi sangat magis, apalagi dengan riuh lampu dan iringan musik tradisional yang dipadu suara synthesizer.

Tidak hanya tari, ada juga lomba musik tradisional seperti gitar tunggal dan biola melayu. Para peserta dari berbagai daerah di Sumsel berlomba menunjukkan kebolehan mereka. Gitar tunggal misalnya, adalah alat musik petik khas daerah yang menghasilkan melodi sendu dan syahdu. Sementara biola melayu memberi warna haru pada lagu-lagu daerah.

2. Pawai Budaya: Merasakan Kejayaan Masa Lalu

Salah satu yang paling ditunggu-tunggu adalah pawai budaya yang digelar di sepanjang Jalan Merdeka hingga Benteng Kuto Besak. Pawai ini menampilkan replika kapal dagang zaman Sriwijaya yang dihias dengan bunga dan umbul-umbul. Kapalnya diarak oleh sekelompok pemuda berkostum prajurit kerajaan. Mereka membawa perisai dan tombak, lengkap dengan baju zirah dari anyaman rotan.

Di belakangnya, puluhan penari membawa payung-payung songket raksasa. Lalu gerobak hias yang menggambarkan aktivitas perdagangan rempah dan hasil bumi. Tidak ketinggalan, para peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai etnis di Sumsel: Melayu, Komering, Pasemah, dan Lintang. Keberagaman ini menjadi simbol bahwa Sriwijaya dulu adalah melting pot budaya.

Anak-anak sekolah pun ikut meriah. Mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan kalimat cinta budaya. Pawai berlangsung sekitar dua jam dengan iringan marching band dan gamelan. Ribuan warga berjejer di sepanjang jalan. Ada yang berjualan balon, mainan, hingga jajanan pasar. Suasananya ramai, ceria, dan penuh semangat kebersamaan.

3. Festival Kuliner Sriwijaya: Memanjakan Lidah dengan Cita Rasa Nusantara

Bagian festival yang paling ramai dikunjungi tentu adalah area kuliner. Di Festival Sriwijaya 2026, zona makanan terletak di halaman belakang Benteng Kuto Besak dan memanjang hingga ke pelataran parkir. Lebih dari 150 stan UMKM berjejer rapi. Aroma pempek, tekwan, dan pindang ikan patin langsung menyambut pengunjung begitu memasuki area.

Yang menarik, festival ini tidak hanya menyajikan makanan khas Palembang seperti pempek dan martabak HAR, tetapi juga memperkenalkan kuliner langka dari daerah-daerah kecil di Sumsel. Misalnya sate Komering, gulai tempoyak, dan lemang tapai. Ada juga stand yang menjajakan minuman tradisional seperti es kacang merah dan sari tebu. Beberapa stan menerapkan konsep modern, misalnya pempek dengan topping keju atau tekwan dalam cup instan. Inovasi ini menarik minat anak muda yang biasanya kurang tertarik dengan kuliner tradisional.

Para pengunjung tidak hanya membeli, tapi juga bisa belajar cara membuat pempek. Diadakan workshop singkat selama festival, dipandu oleh ibu-ibu PKK.ibu PKK setempat. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang. Saya sempat berbincang dengan seorang turis asal Jepang bernama Yuki. Katanya, “Saya sangat suka pempek. Tapi saya baru tahu kalau bahan dasarnya adalah ikan tenggiri dan sagu. Sangat unik. Saya akan coba buat di rumah!”

4. Pameran Sejarah dan Arkeologi: Jejak Peradaban di Bawah Tanah

Festival Sriwijaya juga menghadirkan pameran sejarah yang digelar di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Pameran ini menampilkan berbagai artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dipinjam dari berbagai museum di Indonesia, termasuk replika prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, dan arca Buddha dari batu.

Pengunjung bisa mengikuti tur virtual menggunakan kacamata VR yang disediakan. Mereka seperti diajak menyusuri Pelabuhan Sriwijaya di masa lampau, melihat aktivitas pelayaran dan perdagangan. Ini sangat memukau, terutama bagi pelajar. Pameran juga dilengkapi diorama dan infografis interaktif yang menjelaskan bagaimana ibu kota Sriwijaya diperkirakan berada di sekitar Palembang.

Sejarawan lokal, Dr. Hermansyah, yang menjadi kurator pameran, mengatakan bahwa Festival Sriwijaya adalah momentum untuk mendekatkan arkeologi pada publik. “Selama ini artefak hanya dilihat dari balik kaca. Sekarang, dengan teknologi dan narasi yang menarik, kami ingin masyarakat merasa bangga dan ikut serta melestarikan warisan ini,” ungkapnya.

Dampak Festival Sriwijaya bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Festival Sriwijaya bukan hanya soal panggung dan pameran. Lebih dari itu, festival ini menjadi lokomotif penggerak perekonomian daerah. Data dari Dinas Pariwisata Sumsel pada festival tahun sebelumnya mencatat adanya peningkatan kunjungan wisatawan hingga 35% selama periode pelaksanaan. Hotel-hotel di Palembang dan sekitarnya penuh, tingkat okupansi mencapai 90%. Penerbangan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II juga bertambah frekuensinya.

Untuk tahun 2026, target kunjungan dipatok lebih tinggi lagi. Dengan durasi sepuluh hari dan ragam acara yang lebih meriah, diharapkan jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Nining, pemilik stan pempek “Sriwijaya Rasa” di pinggir Sungai Musi, bercerita dengan antusias. “Biasanya hari biasa saya jualan di pinggir jalan, penghasilan pas-pasan. Saat festival begini, omzet saya naik tiga kali lipat. Saya bisa mempekerjakan tetangga untuk membantu membuat pempek. Alhamdulillah,” ujarnya sambil menyajikan pempek kapal selam yang masih panas.

Cerita Nining bukan satu-satunya. Banyak perajin songket di daerah Palembang 16 Ilir yang kebanjiran pesanan. Songket untuk dijadikan kostum penari dan pakaian pengunjung. Harga songket Palembang yang cukup tinggi—bisa jutaan rupiah per lembar—tetap diminati. Apalagi saat festival, banyak wisatawan dari luar daerah yang membeli songket sebagai oleh-oleh.

Dampak terhadap Pariwisata Kreatif

Tidak hanya ekonomi langsung, festival juga mendorong pertumbuhan pariwisata kreatif. Banyak startup lokal memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan aplikasi pemandu wisata digital, jasa fotografi, hingga paket tur budaya. Beberapa komunitas pecinta sejarah mengadakan “Palembang Heritage” mengadakan walking tour ke situs-situs peninggalan Sriwijaya seperti Candi Bumiayu dan Candi Tingkip. Tur ini dibanjiri peserta, terutama generasi milenial dan gen Z.

Di sisi lain, festival menjadi ajang promosi desa wisata di Sumsel. Misalnya Desa Wisata Madu di Kabupaten Musi Banyuasin atau Desa Tanjung Batu di Ogan Ilir yang terkenal dengan keindahan alam dan kearifan lokalnya. Mereka mendapat kesempatan untuk memamerkan produk dan budaya di panggung festival.

Pelestarian Budaya: Menarik Minat Generasi Muda

Salah satu tantangan terbesar pelestarian budaya adalah bagaimana membuatnya relevan di mata generasi muda. Festival Sriwijaya 2026 hadir dengan jawaban yang cerdas. Tidak hanya menyajikan tarian klasik yang mungkin terkesan kaku, tetapi juga mengkolaborasikannya dengan musik elektronik, tari kontemporer, dan pertunjukan multimedia.

Di salah satu sudut area festival, ada panggung khusus yang diberi nama “Sriwijaya Beat”. Di panggung ini, DJ lokal menggabungkan irama gamelan dengan beat house dan trap. Penonton yang kebanyakan anak muda bergoyang ria. Ini adalah cara yang efektif untuk memperkenalkan alat musik tradisional tanpa membuat mereka bosan.

Selain itu, diadakan lomba konten kreatif bagi anak muda. Mereka diminta membuat video TikTok atau Reels tentang Festival Sriwijaya dengan tema “Sriwijaya Masa Kini”. Hadiahnya berupa uang tunai dan paket perjalanan ke destinasi wisata Sumsel. Hasilnya, ribuan konten bermunculan di media sosial, memperluas jangkauan promosi secara organik.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumsel, Dr. Sheila mengatakan, “Kami tidak ingin festival ini hanya menjadi tontonan. Kami ingin menjadi tuntunan tentang bagaimana melestarikan budaya dengan cara yang menyenangkan. Anak muda harus merasa bahwa budaya itu kuno adalah milik mereka, bukan sesuatu yang usang.”

Suasana Festival: Cerita dari Pengunjung

Bicara soal festival, rasanya kurang lengkap tanpa mendengar cerita langsung dari pengunjung. Ada banyak wajah di festival ini. Mulai dari keluarga dengan anak-anak kecil yang antusias menonton pawai, hingga turis mancanegara yang sibuk memotret.

Saya bertemu dengan seorang kakek bernama Pak Rosidi. Usianya sudah 70 tahun, tetapi ia datang sendirian dari daerah Kayuagung hanya untuk menyaksikan festival. “Saya dulu waktu kecil sering lihat pertunjukan begini di desa. Sekarang jarang ada. Jadi senang banget masih ada yang melestarikan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Di lain tempat, sepasang muda-mudi dari Jakarta, Andi dan Sari, sengaja datang berlibur ke Palembang karena penasaran dengan festival. “Kami lihat viral di Instagram. Ternyata lebih seru dari ekspektasi. Bukan cuma pameran, tapi benar-benar hidup. Kami jadi belajar sejarah Sriwijaya yang ternyata sangat kaya,” ujar Andi sambil menunjukkan koleksi foto di ponselnya.

Ada juga sekelompok mahasiswa dari Universitas Sriwijaya yang menjadi relawan. Mereka bertugas membantu pengunjung, menjaga stan, dan memandu tur. Salah satu relawan, Putri, mengatakan bahwa pengalaman ini membuatnya lebih mencintai budaya sendiri. “Dulu saya cuek sama songket dan tarian tradisional. Tapi setelah jadi relawan, saya ikut kursus tari Gending. Sekarang saya bangga bisa menari,” katanya tersenyum.

Membangun Infrastruktur Pendukung Festival

Festival berskala besar ini tentu membutuhkan persiapan infrastruktur yang matang. Pemerintah Provinsi Sumsel bekerja sama dengan BUMN dan pihak swasta untuk memperbaiki akses jalan menuju titik-titik lokasi festival. Beberapa ruas jalan di sekitar Benteng Kuto Besak diaspal ulang dan diperlebar. Taman Kambang Iwak juga mendapat renovasi dengan penambahan lampu taman, panggung permanen, dan toilet umum yang lebih bersih.

Selain itu, sistem transportasi umum dioptimalkan. Disediakan bus listrik gratis yang menjemput pengunjung dari beberapa titik parkir jauh di pinggir kota. Ini dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan polusi. Banyak pengunjung memuji coba bus yang dipenuhi hiasan lambang kerajaan Sriwijaya—warna emas dan merah—memberi kesan eksklusif.

Untuk keamanan, tim gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP berjaga di setiap sudut. Posko kesehatan juga didirikan di beberapa titik. Penerapan protokol kesehatan tetap diingatkan meskipun situasi sudah menuju normal. Ada titik cuci tangan dan disinfektan di pintu masuk.

Wisata Pendamping: Menjelajahi Lebih Jauh Sumatera Selatan

Festival Sriwijaya 2026 menjadi pintu gerbang yang sempurna untuk menjelajahi keindahan Sumatera Selatan secara keseluruhan. Banyak wisatawan yang memanfaatkan momen festival untuk kemudian berkeliling ke tempat-tempat lain setelahnya.

Destinasi favorit adalah Taman Nasional Sembilang yang terkenal dengan habitat burung migran dan hutan mangrove. Ada pula Danau Ranau di perbatasan Lampung yang menawarkan pemandangan pegunungan dan air jernih. Tidak lupa, Curup Tenang di Kabupaten Muara Enim yang menyuguhkan air terjun dan pemandian alam yang segar.

Paket tur khusus festival ditawarkan oleh beberapa biro perjalanan. Misalnya paket “Sriwijaya Explorer” yang mencakup tiket masuk festival, tur ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, menikmati sunset di Jembatan Ampera, dan city tour naik perahu ketek di Sungai Musi. Paket ini laris manis terutama di kalangan wisatawan nusantara.

Harapan dan Rencana Masa Depan Festival Sriwijaya

Setelah sukses dengan edisi 2026, panitia berencana membawa Festival Sriwijaya ke level internasional. Rencananya, tahun depan festival akan mengundang delegasi budaya dari negara-negara yang pernah menjalin hubungan dengan Sriwijaya di masa lampau, seperti Tiongkok, India, Thailand, dan Kamboja. Ini akan menjadi ajang diplomasi budaya yang sangat bergengsi.

Selain itu, akan dibangun Museum Sriwijaya Interaktif di kawasan Jakabaring. Museum ini direncanakan menjadi pusat edutainment dengan teknologi augmented reality dan hologram. Pengunjung bisa “berinteraksi” dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Dapunta Hyang Sri Jayanasa atau biksu I-Tsing.

Di level komunitas, Festival Sriwijaya juga diharapkan terus menginspirasi desa-desa untuk menggelar festival serupa dalam skala kecil. Misalnya Festival Sungai di Banyuasin atau Festival Batik di Palembang. Ini akan menciptakan ekosistem budaya yang lebih merata.

Penutup: Benang Emas yang Terus Terjalin

Festival Sriwijaya 2026 telah berhasil membuktikan bahwa sejarah bukanlah masa lalu yang mati. Ia bisa dihidupkan kembali melalui kreativitas, semangat gotong royong, dan komitmen untuk membangun daerah. Dari panggung tari hingga pameran jejak arkeologi, dari rasa pempek yang menggoyang lidah hingga alunan musik yang menggoyang jiwa, semua elemen bersatu membentuk satu narasi besar: Sumatera Selatan adalah permata yang tak ternilai.

Bagi kamu yang belum pernah datang, Festival Sriwijaya layak masuk dalam bucket list perjalanan tahun depan. Bagi yang sudah pernah, pasti ada rasa rindu untuk kembali. Seperti kata pepatah, sekali menginjakkan kaki di tanah Palembang, jejakmu akan terikat oleh benang emas Sriwijaya.

Mari kita jaga dan lestarikan budaya ini bersama-sama. Karena bukan hanya milik kita, tetapi warisan untuk anak cucu. Festival Sriwijaya adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan kita semua adalah pejalan yang berhak menikmati perjalanannya.

Selamat datang di Festival Sriwijaya 2026. Selamat merajut benang emas sejarah.