Palu – Tragedi berdarah menimpa satu keluarga di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Jamil, istrinya Nur Hanisah, dan anak mereka yang masih berusia 2 tahun tewas di tangan rekan kerja sendiri. Pelaku, Aan Kurniawan, mengaku membunuh karena sakit hati setelah dituding malas oleh korban.
Kejadian terjadi pada Minggu, 26 Juli lalu, di sebuah tempat pemotongan ayam milik Sukardi di Jalan Lorong PDM, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tetangga, Kota Palu. Suasana malam yang tenang tiba-tiba berubah mencekam saat warga sekitar mendengar pertikaian dan teriakan minta tolong dari Nur Hanisah.
Warga yang penasaran kemudian menemukan tiga orang tak berdaya di dalam kamar. Jamil dan anaknya yang berusia 2 tahun sudah meninggal di lokasi, sementara Nur Hanisah dalam kondisi kritis. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut rekonstruksi polisi, saat malam tragedi itu Nur Hanisah terbangun dan hendak ke kamar mandi. Ia melihat Aan berdiri di sekitar tempat penggilingan daging ayam sambil membawa dua pisau yang biasa digunakan untuk memotong ayam. Nur Hanisah sempat menegur keberadaan Aan di rumah tersebut pada malam hari. Namun pelaku hanya membalas dengan tatapan tajam yang membuatnya ketakutan.
Nur Hanisah kemudian kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Aan menyerangnya dengan senjata tajam hingga ia tak sadarkan diri. Suami dan anaknya sudah lebih dulu dibunuh pelaku. Setelah siuman, Nur Hanisah yang tubuhnya lemah akibat luka tusuk berusaha mencari ponsel miliknya dan suaminya untuk meminta pertolongan, namun tidak menemukannya. Dengan sisa tenaga, ia berteriak meminta tolong hingga tetangga mendengar dan mendobrak pintu rumah.
Kondisi Nur Hanisah sempat membaik setelah menjalani operasi. Namun kesehatannya mendadak menurun. Ia meninggal dunia pada 5 Agustus, 10 hari setelah dirawat. Keluarga menjelaskan bahwa luka tusuk menyebabkan kerusakan sejumlah organ dalam serta pendarahan hebat pada pembuluh darah utama yang menyuplai darah ke jantung.
Aan Kurniawan, yang juga rekan satu kampung dengan Jamil, langsung kabur usai melakukan aksi keji itu. Selama sekitar satu bulan, ia bersembunyi di sebuah gubuk di kawasan bekas bencana likuifaksi Balaroa. Pelarian berakhir setelah keluarga Aan menghubungi polisi karena pelaku ingin menyerahkan diri. Polisi kemudian menangkapnya di rumah keluarga di Kecamatan Palu tanpa perlawanan. Aan mengakui perbuatannya.
Dalam pemeriksaan, polisi mengungkap motif pembunuhan. “Motifnya sakit hati terhadap korban saudara Jamil. Mereka sama-sama bekerja di tempat usaha pemotongan ayam milik saudara Haji Sukardi,” kata pihak kepolisian. Dendam itu memicu amarah Aan hingga gelap mata melakukan pembunuhan.
Pihak keluarga korban menuntut pelaku dihukum seberat-beratnya. “Meskipun dihukum mati pun tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan terhadap keluarga saya,” kata salah satu anggota keluarga. Jamil dikenal sebagai pekerja keras dan tulang punggung keluarga sekaligus penopang hari tua orang tuanya. Dua bulan sebelum tragedi, ia sempat mengunjungi orang tuanya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dendam dan amarah yang tak terkendali, bahkan terhadap orang terdekat, bisa berujung pada tragisnya kehilangan nyawa. Polisi terus memproses perkara ini sesuai hukum yang berlaku.






