PALEMBANG | Video viral memperlihatkan dua anak laki-laki yang masih kecil tengah menghirup lem aibon di Jembatan Ampera, Palembang. Kejadian ini langsung menuai keprihatinan dan desakan dari netizen agar pemerintah segera menindaklanjuti. Tiga konten kreator turut memviralkan kondisi anak tersebut, memicu sorotan publik terhadap masalah anak jalanan dan penyalahgunaan lem.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan dua anak laki-laki berkeliaran di kawasan Jembatan Ampera sambil membawa plastik putih berisi lem aibon. Mereka dengan bebas menghirup zat adiktif tersebut tanpa ada yang mencegah. Video ini pertama kali diunggah oleh sejumlah konten kreator dan dengan cepat menyebar luas di platform Facebook dan Instagram.
Fenomena anak yang menghirup lem atau dikenal dengan istilah ‘ngelem’ sebenarnya sudah lama menjadi persoalan sosial di berbagai kota besar Indonesia. Namun, video kali ini membuat publik kembali tersadar bahwa anak-anak usia dini pun sudah terpapar kebiasaan berbahaya ini.
Setidaknya sudah tiga konten kreator yang ikut menyoroti kondisi dua anak tersebut. Mereka adalah Rondoot, Bang Taun, dan Adjie Bayu Poetra. Ketiganya mendekati anak-anak itu dan berbincang langsung, lalu membagikan momen tersebut ke akun media sosial masing-masing.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Adjie Bayu Poetra menyampaikan rasa mirisnya. Pria berambut panjang itu menuliskan, ‘Berkembang biak pengguna ibon di Kota Palembang anak kecil remaja hingga dewasa. Siapa yang salah?’ Unggahan ini mendapat banyak dukungan dan tanda tanya dari warganet.
Para konten kreator lain juga menunjukkan kepedulian serupa. Mereka berharap video yang mereka buat bisa mendorong pihak berwenang untuk segera turun tangan.
Reaksi Netizen: Apo Gerakannyo?
Tidak sedikit netizen yang mempertanyakan langkah pemerintah setelah tiga konten kreator berbeda membahas kasus yang sama. Akun Muhammad Arief misalnya, menulis komentar, ‘Sudah 3 konten kreator bahas ini, apo gerakannyo?’ Pertanyaan ini mewakili rasa heran banyak orang yang menginginkan aksi nyata, bukan sekadar konten viral.
Akun Dedi Darmawan juga menyayangkan, ‘Bukannya dibawa ke Dinas Sosial malah ditanyai budak lagi ngelem.’ Sementara itu, akun Boyband Jbj mengkritik kondisi Palembang yang dinilai sudah lama memiliki masalah pemuda ngelem di pinggir jalan.
Tindak Lanjut Dinas Sosial Palembang
Tidak lama setelah video tersebut viral, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palembang memberikan respons. Meski detail tindakan belum diumumkan secara resmi, pihak Dinsos dikabarkan telah melakukan koordinasi dan langkah awal penanganan. Biasanya, anak-anak yang terjaring razia akan dibawa ke panti sosial untuk mendapatkan pembinaan dan rehabilitasi.
Masyarakat berharap pemerintah kota tidak hanya merespons saat viral, tetapi juga memiliki program berkelanjutan untuk mencegah anak-anak jatuh ke lingkaran narkoba dan zat adiktif.
Lem aibon mengandung zat kimia berbahaya seperti toluene dan aseton yang jika dihirup dalam jangka panjang dapat merusak sistem saraf, ginjal, hati, dan paru-paru. Efek langsungnya berupa halusinasi, pusing, hingga kehilangan kesadaran. Pada anak-anak, dampaknya lebih parah karena organ tubuh mereka masih dalam masa pertumbuhan.
Penyalahgunaan lem ini juga sering menjadi pintu masuk menuju narkoba yang lebih keras. Oleh karena itu, edukasi dan pengawasan dari keluarga serta lingkungan sangat penting untuk mencegah anak-anak terjerumus.
Kasus di Jembatan Ampera ini menjadi pengingat bahwa masalah anak jalanan dan penyalahgunaan lem masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat Palembang. Dukungan semua pihak dibutuhkan agar dua anak tersebut dan anak-anak lain yang bernasib serupa bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik.






