Sumselnews.co.id – Ogan Ilir | Upaya memperkuat kualitas dan keamanan pangan terus dilakukan pemerintah daerah melalui berbagai langkah konkret. Salah satunya diwujudkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan dengan menggelar Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji bagi penjamah pangan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 2 Mei 2026, di Ruang Pertemuan PKK Kabupaten Ogan Ilir ini diikuti oleh para penjamah pangan yang terlibat langsung dalam pengolahan makanan bagi masyarakat, Pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa setiap makanan yang diproduksi tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga aman dari risiko cemaran yang dapat membahayakan kesehatan.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari tingkat provinsi dan kabupaten, di antaranya Hermansyah, SKM selaku Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesling, Kesja dan OR), Hilda Elliani, SKM, M.Si sebagai Penanggung Jawab Program Pangan, serta Hj. Yanti, SKM, M.Kes, M.Si dan Ade Lusiana, SKM dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibekali enam modul utama yang dirancang komprehensif untuk meningkatkan kapasitas penjamah pangan.
Modul pertama membahas kebijakan keamanan pangan siap saji yang disampaikan oleh Hj. Yanti, SKM, M.Kes, M.Si. Materi ini menekankan pentingnya regulasi dan komitmen dalam menjaga standar keamanan pangan di setiap lini pelayanan.
Selanjutnya, pada modul kedua, Ade Lusiana, SKM memaparkan tentang cemaran pangan dan penyakit bawaan pangan. Peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai berbagai jenis kontaminasi, baik biologis, kimia, maupun fisik, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Pada modul ketiga, Hermansyah, SKM menjelaskan tentang pemeliharaan lingkungan kerja serta pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit. Ia menegaskan bahwa lingkungan dapur yang bersih dan bebas dari hama merupakan faktor kunci dalam mencegah terjadinya kontaminasi pangan.
Modul keempat kembali disampaikan oleh Ade Lusiana, SKM yang mengulas pentingnya pembersihan dan sanitasi peralatan. Dalam sesi ini, peserta diajarkan teknik pencucian, desinfeksi, serta penyimpanan peralatan yang sesuai standar kesehatan.
Kemudian pada modul kelima, Hj. Yanti, SKM, M.Kes, M.Si memberikan materi tentang higiene perorangan. Ia menekankan bahwa perilaku individu penjamah pangan, seperti mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri (APD), dan menjaga kebersihan diri, sangat berpengaruh terhadap kualitas makanan yang dihasilkan.
Sementara itu, modul keenam yang disampaikan oleh Hilda Elliani, SKM, M.Si membahas tahapan proses produksi pangan siap saji secara menyeluruh. Mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan, seluruh tahapan harus memenuhi prinsip keamanan pangan.
Hermansyah, SKM dalam keterangannya menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam mendukung keberhasilan Program MBG. “Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh penjamah pangan, Kesalahan kecil dalam proses pengolahan dapat berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Hilda Elliani, SKM, M.Si yang menekankan pentingnya konsistensi dalam penerapan standar keamanan pangan. Menurutnya, pemahaman yang baik harus diiringi dengan praktik yang benar di lapangan.
Ketua Pelaksana kegiatan, Hj. Yanti, SKM, M.Kes, M.Si menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta agar mampu menerapkan prinsip higiene dan sanitasi secara optimal. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh penjamah pangan di dapur SPPG mampu bekerja sesuai standar, sehingga makanan yang dihasilkan benar-benar aman dan berkualitas,” jelasnya.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan praktik langsung dan diskusi interaktif. Metode ini dinilai efektif dalam membantu peserta memahami materi secara lebih mendalam dan aplikatif.
Ade Lusiana, SKM menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman peserta. “Dengan praktik langsung, peserta tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari,” ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap seluruh penjamah pangan di Kabupaten Ogan Ilir dapat menerapkan standar keamanan pangan secara konsisten. Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.(12)

