Ogan Komering Ilir – Kunjungan kerja Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru ke Kabupaten Ogan Komering Ilir tidak hanya menjadi agenda pemerintahan biasa. Hari itu menjadi momen bersejarah ketika sang Gubernur dianugerahi gelar kehormatan adat dari umat Hindu Bali yang bermukim di Desa Adat Dharma Yoga, Kecamatan Tugumulyo.
Dalam suasana yang sarat makna spiritual dan persaudaraan lintas budaya, Herman Deru menerima gelar “Pelinggih Agung Prajuru Utama Dharma Negara Haji I Wayan Herman Deru.” Sebuah gelar istimewa yang hanya diberikan kepada sosok pemimpin yang dinilai menjunjung tinggi nilai-nilai dharma: kebenaran, kebajikan, dan keharmonisan.
“Saya sangat terharu dan bangga menerima gelar ini. Ini bukan sekadar simbol, tetapi amanah untuk terus menjaga kerukunan dan keberagaman,” ujar Herman Deru dalam sambutannya.
Gubernur Herman Deru mengakui bahwa selama puluhan tahun menjadi kepala daerah, mulai dari Bupati hingga Gubernur, baru kali ini dirinya mendapat gelar adat dari masyarakat Hindu Bali.
“Dulu waktu saya jadi bupati belum pernah dapat gelar seperti ini. Ini menunjukkan begitu eratnya persaudaraan kita,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Gelar tersebut diberikan melalui prosesi adat yang khidmat, disaksikan oleh tokoh masyarakat, pejabat tinggi Sumsel, serta ratusan umat Hindu yang memadati pelataran Gedung Serbaguna Made Wijaya Panggabean (MWP) yang turut diresmikan hari itu.
Usai prosesi adat, Gubernur Herman Deru langsung meresmikan Gedung Serbaguna Made Wijaya Panggabean (MWP). Gedung ini dibangun oleh keluarga besar Made Wijaya Bersaudara—tokoh masyarakat Bali di OKI yang dikenal aktif melestarikan budaya lokal.
“Gedung ini bisa menjadi ruang bersama untuk kegiatan budaya, sosial, keagamaan, hingga keluarga. Ini bukti nyata sinergi antara masyarakat dan pemerintah,” ujar Deru.
Gedung tersebut diharapkan menjadi pusat kegiatan dan edukasi lintas budaya, sekaligus ikon harmoni sosial di Kabupaten OKI.
Selain Herman Deru, gelar kehormatan adat juga diberikan kepada beberapa tokoh penting di Sumatera Selatan, yaitu: Kapolda Sumsel Irjen Pol Andi Rian R. Djajadi, Kajati Sumsel Dr. Gulianto, Bupati OKI Muchendi Mahzarekki
Pemberian gelar ini menjadi simbol penghargaan umat Hindu atas kepemimpinan mereka dalam menjaga keamanan, penegakan hukum, dan kerukunan sosial di wilayah Sumsel.
Berbarengan dengan peresmian gedung, digelar pula Upacara Ngaben Massal, tradisi kremasi umat Hindu yang sakral dan penuh nilai spiritual. Tradisi ini melibatkan peserta dari berbagai daerah, bahkan hingga luar Sumsel seperti Jambi, Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Penida.
Tokoh masyarakat Tugu Mulyo, Made Wijaya, menyebut kegiatan ini sebagai manifestasi kekuatan budaya yang menyatukan.
“Kami bersyukur punya pemimpin seperti Pak Gubernur yang mau turun langsung ke masyarakat. Semoga nilai-nilai luhur adat Bali terus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.
Gubernur Herman Deru dalam pidatonya menekankan bahwa Sumatera Selatan adalah provinsi dengan semangat zero konflik. Keberagaman suku, agama, dan budaya bukan jadi alasan perpecahan, melainkan fondasi kokoh bagi persatuan.
“Sumsel harus bangga memiliki masyarakat yang mampu menjaga kearifan lokal dan tetap hidup rukun. Saya berharap tradisi seperti ini bisa diangkat lebih luas melalui festival budaya atau kemitraan pariwisata,” katanya.
Peristiwa ini tidak hanya mempererat hubungan antar komunitas, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menghargai perbedaan dalam bingkai persaudaraan. Gelar kehormatan yang diterima Herman Deru merupakan wujud cinta dan kepercayaan masyarakat adat kepada pemimpinnya.
Dengan semangat ini, Sumsel semakin teguh sebagai provinsi yang bukan hanya kaya akan budaya, tetapi juga jadi contoh nyata dalam membangun harmoni Indonesia.






