MUBA  

Karo Mamang Kelurahan Mangunjaya Sukses Tingkatkan Ekonomi Kaum Perempuan 

SumselNews – Sore itu di Kelurahan Mangunjaya Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan tampak berbeda. Warga berkumpul di pinggir keramba apung yang siap panen.

Ditemani rintik hujan yang menyejukkan, ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Pelangi siap memanen ikan lele dan ikan nila dari keramba apung yang selama ini mereka rawat. Bersama warga lainnya, ibu-ibu KWT Pelangi menebar jaring, menyambut ikan-ikan yang sudah berlompatan sejak pagi.

Tawa dan obrolan ringan mengalir di sela aktivitas panen ikan. Momen itu menjadi buah hasil kerja keras, kebersamaan, dan ketekunan warga Mangunjaya selama ini.

Sejak 2025, sebanyak 25 orang perempuan di KWT Pelangi di Kelurahan Mangunjaya melakukan budidaya ikan. Budidaya ini merupakan program Pertamina EP (PEP) Ramba Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, yang dinamakan Karo Mamang (Keramba Apung Organik Ekonomi Mangunjaya).

Dari keramba, ekonomi warga Mangunjaya bergerak dengan hasil panen dan produk turunan yang menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Reni, salah seorang anggota KWT Pelangi, yang merasakan pergerakan ekonomi ini tak bisa menutupi kebahagiaannya sore itu.

“Senang sekali melihat hasil panen hari ini. Berkat pendampingan dari PEP Ramba, kami jadi paham tentang perawatan hingga panen. Hasilnya mulai terasa untuk tambah-tambah penghasilan keluarga,” ucap Reni, Kamis (23/4/2026).

Apresiasi atas kegigihan ibu-ibu KWT Pelangi dan dukungan PEP Ramba Field datang dari Lurah Mangunjaya Fitriya. Ia melihat panen ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan momentum pemberdayaan masyarakat yang lebih luas.

“Harapannya kegiatan ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan. Dengan adanya dukungan CSR dari PEP Ramba Field, diharapkan kegiatan serupa semakin banyak dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” kata Fitri.

Karo Mamang sesungguhnya juga tak hanya tentang ekonomi yang bergerak tapi juga jaring pengaman ketika panen gagal akibat banjir. Selain itu, Karo Mamang juga diharapkan menjadi motor penggerak perubahan sosial untuk menjaga pelestarian lingkungan. Budidaya ikan ini dilakukan dengan menekan sekecil mungkin sampah atau limbah luaran.

Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR mengatakan keberhasilan di Mangunjaya terwujud berkat kerja keras ibu-ibu di KWT Pelangi serta dukungan para pemangku kepentingan. “Program Karo Mamang kami jalankan melalui perencanaan dan pendampingan dari awal hingga tahap panen. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat Mangunjaya,” pungkasnya.

Keramba apung organik di Mangunjaya tak hanya tentang budidaya perikanan. Keramba-keramba itu menyimpan cerita soal keberanian untuk memulai dan belajar yang berbuah harapan untuk masyarakat dan lingkungan.

Sebagai informasi, PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yaitu PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.

Wilayah-wilayah kerja itu tersebar di dua kota, Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten, yaitu Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.

PHR Regional Sumatra Zona 4 di bawah koordinasi serta pengawasan dari SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)