Sumselnews.co.id OGAN ILIR | Lahan warga Desa Talang Sleman Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan ilir yang terendam lumpur setinggi lutut orang dewasa akibat dari pengerjaan tol di Zona 3 Indralaya-Prabumulih sampai saat ini belum juga ada penyelesaiannya. Selasa (04/04/2023).
Menurut salah satu warga” Agok ” Sapaan akrab bapak Rozali yang lahanya terdampak lumpur, saat di konfirmasi Sumselnews.co.id Selasa (04-04-2024)menuturkan,kejadian ini sudah satu tahun lamanya, jadi selama itu juga kebun karet saya tidak bisa di produksi lagi, saya sudah berusaha melaporkan hal ini kepada pemerintah Desa tapi sampai detik ini belum juga penyelesaianya,pihak HKI melalui Humas dan K3 juga sudah meninjau lokasi tempat kebun saya yang terendam lumpur tersebut, tapi bukanya solusi yang saya dapatkan, malah secara diam diam pihak PT HKI masuk ke kebun saya sehingga merusak batang karet saya.saya berharap kepada PT HKI untuk memberikan solusi terhadap karet saya yang sudah lama tidak bisa di ambil lagi produksinya.

Selama ini,proyek jalan tol tidak memperhatikan dampak yang timbul bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, pembangunannya dinilai warga sekitar tidak lagi mengindahkan kepentingan umum.sehingga sekarang ini banyak warga yang susah untuk pergi ke kebun karena tertutupnya akses jalan oleh proyek Tol tersebut.
Warga Talang Sleman pun berharap, pemkab Ogan Ilir dan DPRD turun ke lapangan untuk mengkroscek. Kebenaran limbah lumpur serta hilangnya akses jalan warga tersebut,ke mana lagi kami harus mengadu? Ke mana hak kami sebagai warga yang menginginkan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”tutur Agok “

Menanggapi hal itu Humas PT HKI Zona 3 mubasyir, membenarkan kejadian tersebut, hal itu di karenakan hujan yang lebat sehingga mengakibatkan tanah galian ikut terbawa air sehingga masuk ke dalam kebun karet warga
“Iya benar ada 2 kebun karet warga Talang Sleman yang terendam lumpur akibat dari tingginya intensitas hujan, sehingga ikutnya tanah galian dan masuk ke kebun masyarakat,kami juga sudah kroscek ke lapangan melalui K3,agar nantinya bisa menghitung berapa biaya kompensasi untuk limbah lumpur itu.”ungkapnya”(120Y)






