SumselNews.co.id Ogan Ilir | Dalam rangka menjaring bibit muda calon dai dan qori masa depan Ogan Ilir, sebuah lomba antarsiswa diselenggarakan di Desa Sukananti, Kecamatan Rambang Kuang.
Acara bertajuk “Gebyar Yayasan Nurul Islam” diikuti ratusan peserta dari enam desa di Kecamatan Rambang Kuang.
Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Islam selaku penyelenggara, Yulianti mengatakan, lomba diikuti peserta baik individu maupun kelompok.
“Tujuan dari lomba ini untuk menjaring calon dai dan qori masa depan Ogan Ilir, pensyiar Islam. Selain juga untuk semakin mengenalkan Yayasan Pendidikan Nurul Islam,” kata Yulianti kepada wartawan, Minggu (19/12/2021).
Adapun ajang yang dilombakan yakni pembacaan Alquran ayat pendek, ceramah, azan, busana muslim, membaca puisi, menyusun puzzle, cerdas cermat dan mewarnai.
Ratusan peserta berasal dari berbagai lembaga pendidikan seperti Taman Pendidikan Alquran (TPA), Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Rumah Tahfiz, Raudhatul Athfal (RA).
“Bahkan ada juga yang dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini),” ujar Yulianti.
Yulianti mengatakan, Gebyar Yayasan Nurul Islam merupakan kompetisi perdana sejak yayasan pendidikan tersebut didirikan satu tahun lalu.
Nantinya, setiap pemenang lomba akan didampingi dan terus diasah bakat mereka sehingga kompetisi ini tak sekadar seremoni.
“Selain dai dan qori, pada ajang ini juga mencari calon muazin, peragawati busana muslim. Ini bisa dibilang ajang pencarian bakat juga,” tutur Yulianti.
Predikat Ogan Ilir sebagai daerah kota santri, kata Yulianti, harus terus dipertahankan dengan bertambahnya individu yang mahir di bidang syiar Islam.
“Selain ponpes-ponpes, mencetak santri para penghapal Quran, dai, qori, ini adalah kewajiban bersama termasuk lembaga pendidikan seperti kami,” terang Yulianti.
Adanya Gebyar Yayasan Nurul Islam ini mendapat perhatian dari Pemkab Ogan Ilir melalui Camat setempat beserta perangkat desa.
Kepala Desa Sukananti, Mustoyono mengatakan, anak-anak di wilayah desa yang dipimpinnya memiliki antusiasme mengikuti lomba ini.
“Selain antusias, anak-anak juga memiliki potensi menjadi pendakwah. Namun selama ini wadahnya kurang,” ujar Mustoyono.
Dia pun berharap lomba semacam ini dapat berkelanjutan dan diselenggarakan setiap tahun.
“Harapannya bisa diadakan setiap tahun demi mencetak generasi Islami. Pemerintahan desa tentunya akan mendukung dan membantu sesuai kapasitas yang dimiliki,” kata Mustoyono. (Ril)






