Rupiah Tertekan di Level Terendah Lima Bulan Terakhir, Kapital Outflow SBN Melonjak

JAKARTA | Nilai tukar rupiah jatuh ke posisi terendah dalam lima bulan terakhir, mencapai Rp16.775 per dolar AS pada Jumat, 26 September 2025, didorong oleh gelombang arus keluar dana asing dari Surat Berharga Negara (SBN) usai reshuffle kabinet oleh Presiden Prabowo awal bulan ini.

Data Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan mengungkapkan kepemilikan asing di SBN turun drastis—total outflow September diperkirakan mendekati US$1,9 miliar, hampir mencetak rekor bulanan, dengan Rp22–35 triliun yang keluar sejak pergantian Menteri Keuangan. Koreksi indeks saham juga terjadi, menunjukkan reaksi negatif pasar akibat ketidakpastian fiskal setelah jabatan Menkeu berpindah dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa.


Tekanan Berlanjut dari Ketidakpastian Kebijakan

Pelemahan rupiah sangat erat kaitannya dengan keraguan investor atas arah kebijakan fiskal baru. Presiden Prabowo mengganti Sri Mulyani, figur disiplin anggaran yang dihormati investor, memicu kekhawatiran terhadap rencana belanja besar dan pembiayaan ambisius, misal program makan bergizi gratis serta belanja pertahanan yang menjadi tantangan berat bagi Menteri Keuangan baru. Analis menilai respons pasar adalah wujud “menanti kepastian,” dengan kekhawatiran defisit meningkat dan likuiditas berlebih yang bisa melemahkan rupiah lebih jauh.

Tekanan tambahan juga datang dari sisi eksternal, yakni penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi AS setelah rilis data ekonomi yang lebih baik—mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter The Fed, sehingga arus modal makin deras keluar dari aset berisiko di emerging market.


BI Kerahkan Seluruh Instrumen Stabilisasi

Gubernur BI Perry Warjiyo merespons gejolak pasar dengan memastikan bank sentral menggunakan seluruh instrumen moneter demi menahan pelemahan rupiah. Intervensi dilakukan baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian SBN di pasar sekunder, hingga intervensi di pasar internasional lewat instrumen NDF—termasuk Asia, Eropa, dan Amerika. BI telah meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS untuk menjamin stabilitas keuangan dan likuiditas tetap terjaga.

Meski demikian, tekanan masih terasa signifikan karena investor menunggu rilis data inflasi AS PCE dan laporan ketenagakerjaan bulanan yang akan menjadi indikator penting arah suku bunga global. Rupiah diprediksi bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.740–Rp16.810 per dolar AS dalam beberapa hari mendatang, dengan peluang rebound sangat ditentukan sentimen eksternal dan kebijakan fiskal domestik.


Dampak Sektor Riil dan Prospek Jangka Pendek

Pelemahan rupiah turut memperbesar beban utang luar negeri pemerintah dan swasta, serta berpotensi mendorong harga impor lebih tinggi. Sektor riil dihadapkan pada risiko kenaikan biaya bahan baku dan potensi kenaikan inflasi. Pengamat menyarankan pemerintah segera memberikan kepastian arah fiskal, mengingat stabilitas kebijakan dan komunikasi transparan adalah kunci utama memulihkan kepercayaan pelaku pasa