Papar, Sabah – Kasus meninggalnya seorang siswi berusia 13 tahun, Zara Qairina Mahathir, menggemparkan Malaysia dan menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan siswa di sekolah serta transparansi penanganan hukum.
Zara ditemukan tidak sadarkan diri di selokan dekat asrama SMKA Tun Datu Mustapha, Papar, pada 16 Juli 2025 sekitar pukul 1 dini hari. Ia sempat dirawat di Queen Elizabeth I Hospital, Kota Kinabalu, namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia sehari kemudian, 17 Juli 2025, setelah fungsi otaknya tidak dapat dipertahankan.
Kejanggalan Awal dan Kecurigaan Keluarga
Pemakaman Zara dilangsungkan pada 18 Juli, tanpa melalui proses autopsi. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, sebab kematian dengan kondisi tidak wajar biasanya harus disertai pemeriksaan forensik.
Beberapa hari setelah pemakaman, sang ibu, Noraidah Lamat, menyampaikan kegelisahannya. Ia mengaku menemukan memar di bagian punggung Zara ketika memandikan jenazah. Dugaan bahwa putrinya bukan sekadar korban kecelakaan semakin kuat, terlebih setelah muncul sebuah rekaman audio 44 detik yang diduga direkam oleh Zara. Dalam rekaman tersebut, Zara menyebut dirinya kerap mendapat tekanan dari seorang senior di sekolah berinisial Kak M.
Penyelidikan Resmi: Eksumasi, Otopsi, dan Inquest
Desakan publik yang masif membuat Kejaksaan Agung Malaysia (AGC) akhirnya turun tangan. Pada 8 Agustus, AGC memerintahkan eksumasi untuk melakukan autopsi ulang. Proses pembongkaran makam dilakukan pada 9 Agustus dengan pengawasan polisi, keluarga, serta ahli forensik independen.
Hasil autopsi sejauh ini belum diumumkan, namun penyelidikan terus berkembang. Bukit Aman membentuk satuan tugas khusus dan memeriksa hingga 195 saksi, termasuk guru, siswa, staf sekolah, dan orang tua.
Puncaknya, AGC memutuskan bahwa kasus ini harus melalui inquest di Mahkamah Koroner Kota Kinabalu, yang dimulai pada 18 Agustus 2025. Inquest ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan utama: apakah Zara meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, atau ada unsur kriminal.
Gelombang Opini Publik dan Maraknya Hoaks
Kasus Zara memicu solidaritas nasional. Ribuan warga, terutama di Sabah, menggelar aksi damai dengan membawa tagar #JusticeForZara. Mereka menuntut keadilan dan perbaikan sistem pengawasan sekolah berasrama.
Namun, di sisi lain, media sosial dipenuhi spekulasi dan kabar bohong. Salah satunya, sebuah akun TikTok mengaku sebagai dokter bedah yang terlibat dalam autopsi Zara. Polisi kemudian memastikan klaim itu palsu dan kini memburu pelaku penyebaran informasi menyesatkan.
Respons Pemerintah
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa tidak ada yang boleh berada di atas hukum. Ia juga memperingatkan agar tragedi ini tidak dijadikan komoditas politik.
Sementara itu, Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil meminta publik tidak mengaitkan kasus ini dengan aksi boikot Merdeka atau isu politik partisan.
Di sisi pendidikan, Kementerian Pendidikan Malaysia memerintahkan audit menyeluruh terhadap sistem keamanan sekolah berasrama serta evaluasi mekanisme pengaduan kasus perundungan. Hasil audit dijanjikan akan diumumkan dalam tiga bulan.
Tuntutan Reformasi
Tragedi Zara Qairina kini bukan sekadar kasus kriminal, tetapi simbol dari krisis perlindungan anak di sekolah. Para aktivis pendidikan mendesak agar pemerintah memperketat standar keamanan asrama, memperbaiki sistem laporan bullying, serta memastikan adanya perlindungan bagi korban yang berani bersuara.
Publik menantikan hasil inquest yang diharapkan dapat menjadi titik terang dalam pencarian keadilan bagi Zara dan keluarganya.

