Jembatan Rel di Cina Barat Laut Runtuh, 12 Tewas dan 4 Hilang

Qinghai, Cina — Sebuah jembatan kereta api raksasa yang masih dalam tahap pembangunan di barat laut Cina runtuh pada Jumat, 22 Agustus 2025, menewaskan sedikitnya 12 pekerja konstruksi dan membuat 4 orang lainnya hilang. Insiden tragis ini terjadi di jalur Sichuan–Qinghai Railway, tepatnya di atas Sungai Kuning (Yellow River), provinsi Qinghai.

Menurut laporan media lokal dan internasional, jembatan runtuh sekitar pukul 03.10 pagi waktu setempat. Saat itu, tim pekerja tengah melakukan operasi penegangan kabel baja (cable tensioning), ketika tiba-tiba salah satu kabel penopang utama mengalami kegagalan. Akibatnya, bagian tengah lengkungan jembatan ambruk dan jatuh ke Sungai Kuning di bawahnya.

Di lokasi terdapat 15 pekerja dan seorang manajer proyek. Dari jumlah tersebut, 12 orang dipastikan tewas, 4 masih hilang, sementara sisanya berhasil diselamatkan dengan luka-luka.

Jembatan ini dikenal sebagai Jianzha Yellow River Bridge, sebuah jembatan lengkung rangka baja (steel truss arch) dengan jalur kereta ganda (double-track). Menurut catatan resmi, jembatan sepanjang 1.596 meter dengan bentang utama 366 meter ini diklaim sebagai jembatan lengkung rangka baja ganda terbesar di dunia, sekaligus yang pertama di Cina membentang di atas Sungai Kuning.

Proyek ini merupakan bagian penting dari jalur kereta Sichuan–Qinghai Railway, yang dirancang untuk mempercepat konektivitas antara Cina barat daya dan barat laut.

Pemerintah Cina mengerahkan ratusan personel penyelamat, lengkap dengan perahu, helikopter, dan robot pencarian bawah air untuk menemukan korban yang masih hilang. Beberapa rumah sakit di Qinghai juga disiagakan untuk menerima korban luka.

Kementerian Penanggulangan Bencana segera mengirimkan satuan tugas darurat ke lokasi untuk mengawasi operasi penyelamatan dan melakukan investigasi penyebab insiden. Hingga kini, fokus utama pemerintah adalah mencari korban hilang serta menjamin keselamatan tim penyelamat di lokasi runtuhan.

Tragedi ini memicu perhatian luas, mengingat jembatan tersebut merupakan salah satu ikon rekayasa teknik modern Cina. Insiden ini sekaligus menimbulkan pertanyaan besar tentang standar keselamatan konstruksi, kualitas material, serta prosedur pengawasan di proyek-proyek infrastruktur strategis.

Para pakar konstruksi menilai, tahap penegangan kabel baja adalah fase paling kritis dalam pembangunan jembatan jenis lengkung rangka baja. Kegagalan dalam perhitungan atau kualitas material bisa menimbulkan efek domino yang berujung pada runtuhnya struktur utama.

Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih berlangsung dengan prioritas menemukan korban hilang. Pemerintah Cina berjanji melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab runtuhnya jembatan yang digadang-gadang sebagai kebanggaan rekayasa teknik negeri itu.