Israel Serang Pimpinan Hamas di Qatar: Dunia Mengecam, Diplomasi Goyah

Doha – Dunia internasional diguncang kabar mengejutkan pada Selasa (9/9/2025) ketika Israel melancarkan serangan udara di ibu kota Qatar, Doha. Serangan ini menargetkan pimpinan senior Hamas yang sedang berkumpul membahas proposal gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.

Ledakan besar mengguncang distrik Katara, salah satu kawasan elit Doha, dan asap hitam membubung tinggi di langit kota. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk putra dari tokoh senior Hamas, Khalil al-Hayya. Meski demikian, al-Hayya sendiri dilaporkan selamat dari upaya pembunuhan itu.

Target Utama: Khalil al-Hayya

Khalil al-Hayya adalah salah satu pimpinan utama Hamas yang kini berbasis di Qatar. Ia semakin menonjol setelah kematian dua tokoh besar Hamas, Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar, pada 2024.

Al-Hayya dikenal sebagai sosok penting dalam diplomasi, terutama dalam negosiasi pembebasan sandera dan gencatan senjata. Serangan yang hampir merenggut nyawanya ini dinilai sebagai pesan keras dari Israel bahwa mereka akan mengejar Hamas di manapun, bahkan di luar Gaza.

Reaksi Internasional: Dari Kecaman hingga Kekhawatiran

Serangan Israel di Doha memicu reaksi keras dari berbagai negara dan tokoh dunia:

  • Turki, lewat Presiden Recep Tayyip Erdoğan, menyebut Israel telah mengadopsi terorisme sebagai kebijakan negara. Ia menilai serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan Qatar.

  • Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan serangan tersebut mengancam stabilitas regional. Menurutnya, dunia justru membutuhkan gencatan senjata, bukan eskalasi baru.

  • Donald Trump, mantan Presiden AS, menilai serangan ke Qatar—sekutu dekat Washington—justru tidak menguntungkan baik bagi Amerika maupun Israel dalam jangka panjang.

  • Paus Leo menyatakan keprihatinannya, menyebut serangan tersebut menciptakan “situasi sangat serius” yang bisa memicu gejolak baru.

Selain itu, warga Israel sendiri, khususnya keluarga sandera, khawatir langkah ini memperburuk proses negosiasi pembebasan tawanan Hamas.

Dampak Diplomatik untuk Qatar

Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator utama dalam konflik Israel–Hamas, marah besar. Pemerintah Doha menuduh Israel melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan mereka.

Meski sempat muncul kabar bahwa Qatar akan menarik diri dari peran mediasi, pemerintah akhirnya menegaskan tetap akan terlibat demi stabilitas regional, walau dalam situasi yang jauh lebih rumit.

Mengguncang Upaya Perdamaian

Serangan Israel di Qatar dinilai sebagai babak baru dalam konflik yang sudah berkecamuk lebih dari setahun terakhir. Alih-alih membawa perdamaian, langkah ini justru memicu ketegangan baru di Teluk, memperburuk hubungan Israel dengan sekutu Arab, serta menghambat proses gencatan senjata di Gaza.

Apakah aksi ini akan mempercepat runtuhnya Hamas, atau malah memperkuat dukungan dunia Arab terhadap mereka, masih menjadi tanda tanya besar. Namun yang jelas, serangan di jantung ibu kota Qatar menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini semakin meluas, jauh melampaui batas Gaza dan Israel.