Mengungkap Kisah di Balik Kelezatan: 7 Fakta Sejarah Pempek yang Jarang Diketahui

SUMSELNEWS.CO.ID |Pempek, kudapan khas Palembang yang mendunia, lebih dari sekadar olahan ikan dan sagu yang disiram kuah cuko pedas manis. Di balik setiap gigitaya tersimpan segudang cerita dan sejarah panjang yang membentuk identitasnya. Banyak yang mungkin hanya mengenal kelezataya, namun sedikit yang menyelami asal-usul dan evolusinya. Mari kita selami lebih dalam 7 fakta sejarah pempek yang mungkin belum banyak Anda ketahui, mengungkap kisah di balik ikon kuliner Sumatera Selatan ini.

Asal-Usul Nama “Pempek” dan Jejak Awalnya

Tahukah Anda bahwa nama “pempek” sendiri memiliki kisah unik? Konon, nama ini berasal dari panggilan “Apek” atau “Empek”, sebutan untuk pria tua keturunan Tionghoa. Sekitar abad ke-17, di tepian Sungai Musi, seorang Apek dikisahkan menjadi orang pertama yang berinovasi mencampur ikan giling dengan sagu dan menjadikaya kudapan yang kemudian digemari. Masyarakat sekitar yang sering membeli dari sang Apek ini akhirnya memanggilnya “pempek” sebagai singkatan akrab, daama itu melekat hingga kini pada makanaya.

1. Lahir di Masa Kesultanan Palembang Darussalam

Sejarah pempek tidaklah baru. Kudapan ini dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, yakni sekitar abad ke-17. Pada masa itu, Palembang merupakan pusat perdagangan dan perlintasan berbagai budaya, termasuk Tionghoa. Kondisi ini memungkinkan akulturasi budaya yang kuat, termasuk dalam bidang kuliner. Keberadaan sungai Musi yang kaya akan ikan juga menjadi faktor pendorong utama lahirnya makanan berbahan dasar ikan yang inovatif ini.

2. Inovasi untuk Memanfaatkan Ikan Berlimpah

Sungai Musi dahulu kala sangat kaya akan ikan, terutama jenis belida dan gabus. Namun, daya tahan ikan segar yang terbatas menjadi masalah. Untuk mengatasi hal ini, masyarakat Palembang, khususnya para imigran Tionghoa yang dikenal inovatif dalam mengolah makanan, menemukan cara untuk mengawetkan dan mengolah ikan menjadi kudapan yang lebih tahan lama. Mereka mencampur daging ikan giling dengan tepung sagu, membentuk adonan, dan merebusnya, sehingga terciptalah cikal bakal pempek. Inilah bukti kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya alam.

3. Evolusi Bahan Baku Ikan: Dari Belida ke Tenggiri

Pada awalnya, ikan yang paling sering digunakan untuk membuat pempek adalah ikan belida (atau belido dalam bahasa lokal) karena teksturnya yang halus dan rasanya yang khas. Namun, seiring waktu dan karena kelangkaan serta perlindungan terhadap ikan belida, bahan baku bergeser ke ikan-ikan lain yang juga melimpah dan memiliki kualitas baik, seperti ikan gabus dan kemudian ikan tenggiri. Ikan tenggiri kini menjadi pilihan favorit karena mudah didapat, memiliki tekstur kenyal, dan rasa yang gurih, memberikan cita rasa khas pada pempek modern.

4. Cuko: Resep Warisan yang Terus Disempurnakan

Pempek tak akan lengkap tanpa cuko. Kuah hitam pekat dengan rasa pedas, manis, asam, dan gurih ini adalah pasangan tak terpisahkan. Cuko sendiri juga memiliki sejarah panjang. Inspirasinya dipercaya berasal dari kuliner Tionghoa yang menggunakan saus asam-manis, namun kemudian disesuaikan dengan lidah lokal. Bahan utamanya, gula aren berkualitas tinggi, konon berasal dari daerah Lahat atau Pagaralam yang terkenal akan produksi gula areya. Rempah-rempah seperti cabai, bawang putih, dan asam jawa kemudian ditambahkan untuk menciptakan profil rasa yang kompleks dan unik.

5. Bukan Makanan Bangsawan, Melainkan Makanan Rakyat

Meskipun sekarang menjadi ikon kuliner yang dibanggakan, pempek dulunya bukan makanan khusus bangsawan atau kalangan elit. Sebaliknya, pempek adalah makanan rakyat jelata yang lahir dari kebutuhan dan kreativitas masyarakat biasa di Palembang. Keberadaaya sebagai makanan yang terjangkau, mengenyangkan, dan lezat membuatnya populer di semua lapisan masyarakat, membuktikan bahwa inovasi kuliner bisa lahir dari dapur siapa saja.

6. Variasi Bentuk yang Berkembang Seiring Waktu

Awalnya, pempek mungkin hanya berbentuk sederhana seperti lenjer (panjang) atau bulat (adaan). Namun, seiring dengan kreativitas penjual dan permintaan konsumen, variasi bentuk pempek pun berkembang pesat. Kapal Selam dengan isian telur utuh, Keriting dengan tekstur unik, Lenjer dengan irisan, Pastel dengan isian pepaya muda, dan Adaan yang digoreng langsung, semuanya muncul untuk memberikan pilihan dan kekayaan rasa. Setiap bentuk memiliki daya tarik dan cara menikmati yang berbeda, menambah semarak khazanah pempek Palembang.

7. Dari Tepian Musi Menuju Mancanegara

Dari inovasi sederhana di tepian Sungai Musi pada abad ke-17, pempek telah menempuh perjalanan panjang. Kudapan ini bukan lagi hanya makanan khas Palembang, melainkan telah menjadi duta kuliner Indonesia yang dikenal di seluruh penjuru negeri dan bahkan mancanegara. Popularitasnya terus meningkat, membuka peluang bagi banyak wirausaha untuk memperkenalkan kelezatan pempek ke berbagai daerah, menjadikaya salah satu warisan kuliner yang paling dicintai dan lestari.

Kesimpulan

Tujuh fakta sejarah pempek ini menunjukkan bahwa di balik setiap gigitan kelezatan, ada lapisan-lapisan cerita tentang inovasi, adaptasi, dan perpaduan budaya. Pempek bukan sekadar makanan, melainkan cerminan dari kekayaan sejarah dan kreativitas masyarakat Palembang yang berhasil mengubah bahan sederhana menjadi mahakarya kuliner yang tak lekang oleh waktu. Mengetahui sejarahnya akan membuat kita semakin menghargai setiap hidangan pempek yang kita santap.

A vibrant, high-quality, illustrative image of an old man (Apek) with a friendly smile, dressed in traditional attire, standing by the banks of a bustling Musi River in Palembang, circa 17th century. He is proudly presenting a tray of various freshly made pempek (lenjer, adaan) and a small bowl of dark cuko. In the background, traditional Palembang houses on stilts and wooden boats (perahu ketek) are visible under a warm, suy sky. The scene should convey a sense of historical authenticity, culinary iovation, and the cultural richness of Palembang.