PESAWARAN | Kepolisian berhasil mengungkap motif di balik pembunuhan tragis Danu, seorang pemilik salon, yang tewas secara sadis di Pesawaran, Lampung. Dari pengakuan tersangka utama, Dapoy, terungkap bahwa aksi keji tersebut dipicu oleh dendam pribadi terkait bayaran kencan berbayar yang tidak sesuai harapan. Peristiwa berdarah ini terjadi pada dini hari Minggu, 31 Agustus 2025, setelah perencanaan matang yang melibatkan seorang rekan Dapoy berinisial Rafa.
Berdasarkan keterangan Dapoy kepada pihak kepolisian, perkenalan antara dirinya dengan korban, Danu, telah terjalin selama satu bulan terakhir. Keduanya sering bertemu di salon milik Danu, di mana Dapoy kerap menumpang Wi-Fi. Intensitas komunikasi kemudian meningkat ketika Danu mulai mengirim pesan via WhatsApp dan menawarkan “pertemuan berbayar.”
Awalnya, Dapoy sempat mengabaikan tawaran tersebut. Namun, desakan kebutuhan finansial akhirnya mendorongnya untuk menyepakati pertemuan. Kendati demikian, bayaran yang diterima Dapoy sejumlah Rp50.000 jauh di bawah harapaya. Kekecewaan ini semakin memuncak setelah Dapoy mengetahui bahwa teman kencan Danu yang lain dikabarkan menerima Rp100.000. Kondisi ini menumbuhkan dendam dan memicu Dapoy untuk merencanakan pembunuhan. Untuk melancarkan aksinya, Dapoy mengajak Rafa, yang mulanya menolak namun kemudian bersedia membantu, bahkan turut menyiapkan senjata tajam.
Pada Sabtu, 30 Agustus 2025, Dapoy mempersiapkan sebuah tas berisi golok dan pisau kecil sebagai alat untuk melancarkan aksinya. Ia menunggu panggilan dari Danu untuk berkencan. Panggilan tersebut baru diterima pada dini hari Minggu, saat Danu tiba di saloya setelah menyelesaikan pekerjaan di luar kota. Sekitar dini hari, Rafa dan Dapoy diizinkan masuk ke dalam kamar oleh Danu.
Ketika Danu mulai meraba Dapoy di atas kasur, Dapoy meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Namun, alih-alih ke kamar mandi, ia justru mengambil pisau kecil dari tasnya dan menyelipkaya di pinggang. Setelah itu, Dapoy kembali ke kamar, berpura-pura siap melayani Danu, sambil menunggu korban lengah untuk melancarkan serangan.
Saat Danu tertidur terlentang, Dapoy mengirimkan kode berupa emoji “batu” melalui WhatsApp ke ponsel Rafa, menandakan saatnya beraksi. Seketika, Rafa menahan kepala Danu, dan Dapoy segera menyerang dengan pisau kecil yang diselipkan di pinggangnya. Danu yang terkejut berteriak meminta tolong. Dengan cepat, Dapoy mengambil golok dari tasnya dan kembali menyerang korban berkali-kali, dilaporkan hingga tujuh sampai delapan kali tusukan. Bahkan, Dapoy juga memutilasi bagian vital tubuh Danu.
Suara keributan dari dalam kamar terdengar oleh karyawan Danu yang berada di luar dan berusaha masuk. Namun, pintu kamar terkunci. Rafa sempat berteriak, beralasan Danu sedang “mabora daun genjes” (diduga maksudnya mabuk atau berhalusinasi), sambil menahan pintu dari dalam untuk mencegah didobrak. Setelah Dapoy merasa puas melampiaskan dendamnya, ia dan Rafa kabur melalui pintu samping, meninggalkan senjata tajam dan tas di dalam kamar karena panik. Karyawan Danu sempat berusaha menghalangi, namun Rafa mengancam akan menghajar jika berani menghalangi. Ancaman tersebut membuat nyali karyawan menciut, dan Dapoy serta Rafa berhasil melarikan diri menggunakan sepeda motor pada dini hari itu.
Berdasarkan pengakuan Dapoy kepada penyidik, motif utama di balik pembunuhan sadis ini adalah dendam akibat bayaran kencan yang dianggap tidak sesuai harapan, menggambarkan betapa tipisnya batas antara kekecewaan dan tindakan kriminal ekstrem.
—

