Ricuh! Mahasiswa Unsri Indralaya Protes Larangan ‘Bus Kaleng’, Terpaksa Jalan Kaki Jauh di Kampus Sumsel

PALEMBANG.COM — Sebuah video kericuhan yang melibatkan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) Kampus Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) mendadak viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan suasana tegang akibat kebijakan baru yang melarang “bus kaleng” atau angkutan umum non-Damri untuk masuk ke area terminal kampus. Akibatnya, banyak mahasiswa terpaksa turun di gerbang dan melanjutkan perjalanan ke fakultas dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang cukup jauh.

Kericuhan ini bermula ketika bus-bus umum yang selama ini menjadi andalan mahasiswa untuk transportasi sehari-hari dilarang memasuki terminal kampus Unsri Indralaya. Kebijakan ini menetapkan bahwa hanya bus Damri yang diperbolehkan beroperasi di dalam lingkungan kampus. Hal ini sontak memicu kemarahan dan protes dari para mahasiswa yang merasa dirugikan.

Dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @ayambakareva4, terlihat sekumpulan mahasiswa mencegat bus Damri yang mencoba masuk atau keluar area kampus. Mereka meneriakkan protes berulang kali, “Turun! Turun! Turun!” meminta penumpang bus Damri untuk ikut merasakan kesulitan yang sama. Aksi ini menunjukkan betapa besar rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh mahasiswa.

Seorang mahasiswa yang identitasnya tidak disebutkan mengungkapkan keluh kesahnya. “Bus kaleng tidak boleh masuk ke lingkungan kampus lagi, mahasiswa diturunkan di gerbang dengan jarak dari gerbang ke Fakultas yang tidak dekat dan shuttle bus yang tidak banyak sedangkan kelas jam 8,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan betapa dilematisnya situasi yang mereka hadapi, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal kuliah pagi.

Jarak yang jauh dari gerbang kampus ke gedung perkuliahan, ditambah dengan terbatasnya jumlah shuttle bus Damri, membuat mahasiswa kesulitan mencapai kelas tepat waktu. Selama ini, “bus kaleng” menjadi pilihan favorit karena fleksibilitas rute, frekuensi yang lebih banyak, dan tarif yang terjangkau, melengkapi layanan yang belum sepenuhnya bisa dicakup oleh Damri.

Protes yang terjadi merupakan akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan yang dianggap tidak mempertimbangkan kondisi riil mahasiswa. Mereka menuntut pihak rektorat atau pengelola kampus untuk meninjau kembali aturan tersebut dan mencari solusi yang lebih adil dan mengakomodasi kebutuhan transportasi seluruh mahasiswa. Ketersediaan transportasi yang memadai adalah elemen penting dalam menunjang kelancaran proses belajar mengajar, dan dengan adanya hambatan ini, fokus mahasiswa pada akademik bisa terganggu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak rektorat Unsri Indralaya terkait insiden kericuhan dan tuntutan mahasiswa ini. Mahasiswa berharap agar suara mereka didengar dan ada dialog konstruktif untuk menemukan jalan keluar terbaik demi kenyamanan dan kelancaran aktivitas perkuliahan di Unsri Indralaya.