Beranda Uncategorized Memupuk Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini

Memupuk Cinta Lingkungan, DAS dan Gambut Sejak Usia Dini

56
0

Usia dini adalah masa yang penting untuk membekali anak dengan pengetahuan dan pembinaan untuk mengembangkan potensi mereka. Usia ini juga optimal dalam menanamkan kesadaran, kepedulian dan membentuk hal-hal positif tentang berbagai hal terkait. Khususnya sikap dan perilaku yang tepat untuk melestarikan lingkungan dan ekosistem.

Provinsi Sumatera Selatan, kerap kali dihadapkan pada permasalahan lingkungan dan ekosistem. Seperti kebakaran hutan dan lahan, yang sebagian terjadi di lahan gambut. Selain itu permasalahan degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebabkan oleh erosi, alih guna lahan, budidaya pertanian yang tidak ramah lingkungan, juga membawa pengaruh besar untuk Sumatera Selatan.

Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang DAS dan lahan gambut, perlu dilakukan sejak awal, melalui pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD). Karenanya, Forum DAS Sumatera Selatan bekerjasama dengan ICRAF Indonesia, didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Banyuasin, menginisiasi penyusunan kurikulum pendidikan tentang DAS dan Gambut.

Sebagai langkah awal, diselenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (DAS dan Gambut), Sebagai Materi Muatan Lokal bagi Siswa Sekolah Dasar. Diselenggarakan selama dua hari, 23-24 September 2021, di Beston Hotel Palembang, secara luring dan daring.

Peserta lokakarya yang hadir berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Banyuasin, koordinator wilayah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, mitra pembangunan, CSO dan media. Bertujuan untuk menyamakan persepsi para pihak tentang program edukasi lingkungan melalui proses penguatan kapasitas dan pengumpulan saran dan ide terkait materi pendidikan DAS dan lahan gambut.

Sasarannya adalah membangun kurikulum dan bahan ajar DAS dan gambut yang dapat diintegrasikan kedalam muatan lokal pendidikan di tingkat SD (kelas 4, 5 dan 6).

Dr Syafrul Yunardy SHut, ME, selaku Ketua Forum DAS Sumsel, dalam sambutannya mengatakan Kegiatan lokakarya ini untuk membantu percepatan pencapaian visi dan misi Bapak Gubernur Sumsel terkait Sumsel bebas asap dan mengapa salah satunya terkait Daerah Aliran Sungai (DAS), dikarenakan melalui DAS kita dapat memitigasi bencana banjir, erosi dan kekeringan di lahan gambut

Tujuan lain pun disampaikan Dr Syafrul bahwa pendidikan dan pengetahuan perlu digagas melalui muatan lokal sedari dini kepada siswa dan siswi Sekolah Dasar, sehingga mereka dapat juga berperan aktif terlibat dalam menjaga lingkungan.

Hal ini pun disambut baik oleh Direktur ICRAF Indonesia, Dr Sonya Dewi yang menjelaskan bahwa ICRAF Indonesia ikut berperan aktif dan mendukung inisiatif ini dengan bekerjasama secara erat dengan Forum DAS dan tentunya Pemerintah Provinsi dan Kabupaten serta Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten, khususnya Banyuasin.

“Kalau kita mulai Pendidikan sejak dini, mereka para siswa dan siswi akan lebih cepat menyerap pengetahuan dan mempunyai dasar ilmu yang cukup baik untuk melakukan aksi yang cocok untuk daerahnya. Bahkan bisa saja mereka akan menularkan ilmu yang mereka dapat ke orang tuanya” ujar Dr Sonya.

Dr Sonya pun berharap kurikulum dan bahan ajar yang akan disusun nanti bisa masuk kedalam muatan lokal, dan semoga Kabupaten Banyuasin sebagai kabupaten pertama yang menjadi pelopor kegiatan ini dapat menjadi contoh, agar bisa diterapkan juga di kabupaten-kabupaten lain yang mempunyai lahan gambut yang cukup significant.

Kegiatan Lokakarya Forum DAS Sumatera Selatan yang bekerjasama dengan ICRAF Indonesia ini pun mendapat dukungan penuh dari H Riza Fahlevi MM, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan serta Aminuddin SPd, SIp, MM, selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.

“Apresiasi kepada Forum DAS dan ICRAF Indonesia yang telah mengawali langkah besar ini, dan memilih usia SD untuk pengembangan muatan local lingkungan, DAS dan gambut ini. Pendidikan merupakan investasi yang sangat besar untuk keberlanjutan kualitas penghidupan di masa depan. Tidak hanya di Kabupaten Banyuasin, tapi juga di seluruh 17 Kabupaten lainnya” kata Pak Riza Fahlevi dalam sambutanya sekaligus membuka lokakarya ini.

Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten tentu saja mengutamakan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum dan bahan ajar. Dua hari lokakarya ini perlu dijalankan dengan baik, agar terwujudnya Sumsel bebas asap dan melalui pendidikan akan terciptanya Sumsel tangguh, tegar dan terdepan, tegas Riza Fahlevi.

Beliau pun berharap dengan hadirnya ICRAF, maka inisiasi ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, agar I = Ide dan inisiatif, menyumbangkan ide dan inisiatif dalam kegiatan lokakarya dan bersama-sama terlibat dalam pengembangan penyusunannya nanti; C = Chemistry, hubungan kedekatan secara kebatinan bersama, yaitu one team, one vision dan one goal; R = Reading, tetap membaca agar kualitas ilmu lokal dapat diandalkan; A = Aplikasi, memanfaatkan dan menguasai aplikasi dan teknologi yang ada sekarang; dan F = fokus, terus fokus agar hasilnya fantastis.

Paparan materi pertama disampaikan oleh Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Dr Saparis Soedarjanto, SSi, MT mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting DAS bagi Kehidupan dan Penghidupan”, yang menjelaskan bahwa ekosistem DAS merupakan bentang alam dan bentang kelembagaan yang kompleks.

Pengelolaan DAS identik dengan permainan orkestra musik. Terciptanya harmonisasi dalam pengelolaan DAS diperlukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar multi pihak dalam mencapai tujuan pengelolaan DAS.

Andree Ekadinata Shut, MSi, Koordinator Tim Paket Kerja 6-Pengelolaan Pengetahuan, Peat IMPACTS, ICRAF Indonesia, yang juga berkesempatan menyampaikan paparannya mengenai “Membedah Fungsi dan Peran Penting Gambut bagi Kehidupan dan Penghidupan”. Menjelaskan apa itu gambut dan fungsinya, degradasi gambut, memulihkan gambut, dan mengelola gambut untuk tidak rusak lagi, sekaligus menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap gambut.

Andree juga menjelaskan mengenai apa itu restorasi gambut. “Restorasi gambut adalah proses Panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi.” ujarnya.

Penyampaian kedua materi tersebut dimoderatori oleh Wakil ketua Forum DAS, Dr Ir Karlin Agustina, MSi, yang mengantarkan peserta lokakarya kepada diskusi yang lebih mendalam, mengenai upaya penyusunan kurikulum muatan lokal Pendidikan lingkungan DAS dan Gambut di Kabupaten Banyuasin, yang akan dilakukan selama dua hari ini.

Lewat acara ini diharapkan tercipta dukungan dari instansi terkait dan terbentuknya tim gugus tugas penyusunan draft kurikulum dan bahan ajar pendidikan lingkungan, DAS dan gambut Kabupaten Banyuasin. Dengan begitu generasi muda Sumatera Selatan akan memiliki fondasi untuk menjaga lingkungannya secara berkelanjutan dari berbagai faktor penyebab kerusakan lingkungan.

Kegiatan bersama antara Forum DAS Sumatera Selatan dan ICRAF Indonesia ini merupakan rangkaian kegiatan program Peat-IMPACTS Indonesia, yang berfokus kepada restorasi, pengelolaan dan perlindungan gambut, sehingga secara langsung dapat berkontribusi pada komitmen negara untuk penurunan emisi rumah kaca dan target pembangunan jangka menengah tingkat nasional. Proyek ini akan berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Silahkan mengunjungi kanal komunikasi kami:
Forum DAS Sumsel: Instagram dan Twitter: forumdassumsel Facebook: fordassumsel
Youtube: Forum DAS Sumatera Selatan

ICRAF Indonesia Instagram dan Twitter: @icraf_indonesia Youtube: World Agroforestry
Soundcloud: icrafindonesia www.worldagroforestry.org/project/peat-impacts
www.worldagroforestry.org/country/Indonesia
Tentang Peat-IMPACTS Indonesia
Program kemitraan antara ICRAF Indonesia dengan Balai Penelitian Tanah (Balittanah), dan berbagai institusi dan lembaga ditingkat Kabupaten dan Provinsi Sumatera Selatan yang didukung oleh Pemerintah Jerman.

Fokus kerjasama ini adalah restorasi, pengelolaan dan perlindungan gambut sehingga secara langsung dapat berkontribusi pada komitmen negara untuk penurunan emisi rumah kaca dan target pembangunan jangka menengah tingkat nasional. Proyek ini akan berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB-13 (Aksi Iklim) dan TPB-15 (Kehidupan Darat).

Tanggal Update on 24 September 2021 by admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here